Kemenkeu Jaga Pasokan SBN, Target Defisit APBN 2026 Tetap 2,85%

Kemenkeu Jaga Pasokan SBN, Target Defisit APBN 2026 Tetap 2,85%

LIPUTANEKONOMI.COM — Kementerian Keuangan memastikan strategi penerbitan surat berharga negara tidak berubah hingga akhir tahun. Pemerintah menahan tambahan lelang demi menjaga yield SBN sekaligus menutup outlook defisit APBN 2026 yang dipatok 2,85%.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menyatakan komposisi instrumen pembiayaan masih mengikuti strategi yang berjalan. Lelang surat utang negara (SUN) dan surat berharga syariah negara (SBSN) tetap digelar setiap hari Selasa seperti biasa.

Pemerintah menegaskan tidak akan menambah volume lelang di luar jadwal yang sudah ditetapkan. Langkah ini diambil untuk mencegah lonjakan pasokan SBN di pasar sekunder yang berpotensi menekan harga dan mendorong yield lebih tinggi.

Alasan Pemerintah Menahan Tambahan Lelang

Suminto menekankan bahwa risiko pasokan menjadi pertimbangan utama dalam menyusun strategi pembiayaan sisa tahun ini. Menurutnya, tambahan penerbitan lewat lelang berpotensi meningkatkan yield SBN.

"Jadi kami ingin pastikan bahwa supply risk penerbitan SBN domestik akan tetap kami jaga. Artinya tidak akan ada tambahan penerbitan melalui lelang yang lebih besar yang menambah risiko supply SBN yang tentu akan potentially meningkatkan yield," ujar Suminto dalam APBN KiTA, Jumat (18/9/2026).

Dengan strategi yang dinilai masih sejalan dengan target, pemerintah berharap level imbal hasil SBN tetap terkendali. "Jadi dengan strategi yang on track, kami harapkan kami tetap dapat menjaga level timbal hasil dari SBN kita," katanya.

Instrumen Pembiayaan yang Disiapkan hingga Akhir Tahun

Selain lelang rutin SUN dan SBSN, pemerintah menyiapkan sejumlah opsi pembiayaan lain untuk menutup kebutuhan hingga Desember. Dua seri SBN ritel masih akan diterbitkan, yakni Sukuk Tabungan dan SBN ritel konvensional.

Pemerintah juga membuka opsi penerbitan SBN dalam valuta asing. Namun realisasinya akan bergantung pada kondisi pasar, sehingga tidak ada jadwal pasti kapan instrumen ini akan masuk pasar.

Dari sisi pinjaman luar negeri, dana program dari Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) sudah tersedia untuk dicairkan. Fasilitas ini menjadi bantalan tambahan tanpa perlu menambah tekanan di pasar SBN domestik.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Pasar

Bagi investor obligasi, komitmen pemerintah menahan pasokan menjadi sinyal positif untuk menjaga harga SBN di pasar sekunder. Yield yang stabil membuat obligasi negara tetap menarik sebagai instrumen pendapatan tetap, terutama di tengah ketidakpastian global.

Strategi ini juga memberi kepastian bagi pelaku pasar yang selama ini mengkhawatirkan risiko crowding out, yakni kondisi ketika penerbitan SBN berlebihan menyerap likuiditas yang seharusnya mengalir ke sektor riil atau korporasi.

Namun, pemerintah tetap perlu mencermati kondisi pasar global. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pergerakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat bisa memengaruhi minat investor asing terhadap SBN Indonesia.

Dengan defisit APBN 2026 yang dijaga di level 2,85%, ruang fiskal pemerintah relatif terbatas. Karena itu, disiplin dalam mengatur waktu dan volume penerbitan menjadi kunci agar biaya utang tidak membengkak di sisa tahun anggaran.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index