Kelangkaan memori global yang dipicu ekspansi pusat data AI tidak hanya menaikkan harga, tetapi juga mempersulit ketersediaan chip bagi produsen perangkat berukuran kecil. Raymond van Eck, CEO Fairphone, menyebut memori bisa mencapai hampir 60% dari bill of materials pada ponsel berharga sekitar USD 400.
Angka itu jauh melampaui proporsi normal. Bagi pabrikan yang menyasar segmen terjangkau, lonjakan ini langsung menggerus margin keuntungan. Laporan Reuters menyebut ketersediaan pasokan kini jadi persoalan lebih besar ketimbang harga.
Bukan Sekadar Harga, Pasokan Jadi Masalah Utama
Produsen tidak bisa sekadar membayar lebih untuk mendapatkan memori. Mereka harus berebut alokasi chip yang jumlahnya terbatas. Kondisi ini memaksa perubahan mendasar pada cara produk dirancang dan diproduksi.
Pabrikan ponsel asal Finlandia, Jolla, merancang dua versi motherboard. Tujuannya agar bisa beralih antara paket memori gabungan atau chip terpisah, tergantung apa yang tersedia di pasar. Jolla juga menguji sampel dari setiap batch yang diterima untuk memastikan memori baru bukan barang rekondisi yang dijual sebagai unit baru.
Langkah pengujian ini muncul karena kekhawatiran beredarnya chip palsu di tengah kelangkaan. Produsen laptop Framework mengambil pendekatan berbeda lewat desain modular. Pelanggan bisa memasang memori bekas dari laptop lama atau memilih unit second-hand sebagai solusi keterbatasan pasokan.
Pesanan Non-Cancellable dan Harga yang Naik-Turun
Framework juga menempatkan pesanan jauh hari sebelumnya, bahkan tanpa mengetahui harga final atau volume pengiriman pasti. Pada Juli lalu, perusahaan hampir menggandakan harga memori untuk varian 32GB dan 64GB Framework Laptop 13 Pro setelah menerima pembaruan biaya dari pemasok LPCAMM2.
Belakangan, setelah mendapat stok baru dengan biaya lebih rendah, Framework mengumumkan penurunan harga untuk varian yang sama. Perusahaan juga memberlakukan penyesuaian retroaktif bagi pesanan yang sudah dikirim.
Bayangan Kelangkaan hingga 2030
CEO SK Hynix, Kwak Noh-jung, pada Juli lalu menyatakan 2027 akan menjadi tahun terburuk dalam krisis memori yang sedang berlangsung. Ia memperkirakan kelangkaan berlanjut hingga 2030.
Tekanan pada sisi pasokan diperparah proyeksi penurunan pengiriman smartphone global. Counterpoint Research memperkirakan pengiriman tahun ini turun 13,9% menjadi 1,08 miliar unit, penurunan tahunan terbesar yang pernah tercatat.
Bagi konsumen di Indonesia, dampaknya bisa terasa pada harga dan ketersediaan ponsel kelas menengah ke bawah. Produsen yang bergantung pada memori sebagai komponen biaya utama kemungkinan menyesuaikan spesifikasi atau menaikkan harga jual. Pasar lokal yang sensitif terhadap harga menjadi rentan terhadap gelombang kenaikan ini.