Zidane Debut sebagai Pelatih Prancis di Nations League Lawan Turki

Minggu, 20 September 2026 | 05:07:00 WIB
Zidane Debut sebagai Pelatih Prancis di Nations League Lawan Turki

LIPUTANEKONOMI.COM — Zinedine Zidane akan memimpin Prancis untuk pertama kalinya dalam laga Nations League melawan Turki. Debut ini menjadi ujian bagi pelatih yang tiga kali menjuarai Liga Champions bersama Real Madrid namun jarang dianggap masuk jajaran elite.

Pertandingan yang mempertemukan dua sosok penuh teka-teki ini bakal tersaji pada Jumat waktu setempat. Zidane, yang selama ini dikenal sebagai figur misterius, kini menangani tim nasional yang dianggap paling membingungkan di dunia sepak bola.

Prancis punya kedalaman skuad luar biasa. Bahkan tim B mereka bisa menjadi penantang serius di Piala Dunia. Di bawah Didier Deschamps, mereka mencapai tiga final turnamen besar, tetapi selalu menyisakan rasa belum tuntas.

Penampilan Prancis baru benar-benar menarik di Piala Dunia musim panas lalu. Mereka menyerang dengan ganas, tapi kemudian kewalahan di lini tengah saat menghadapi Spanyol.

Rekor Liga Champions yang Tetap Dipertanyakan

Zidane termasuk satu dari lima pelatih yang menjuarai Liga Champions tiga kali atau lebih. Nama-nama lain di daftar itu adalah Bob Paisley, Pep Guardiola, dan Luis Enrique, dengan Carlo Ancelotti masih di atas mereka semua.

Dia satu-satunya manajer yang meraih tiga gelar Liga Champions secara beruntun. Namun hanya sedikit yang menganggapnya sebagai salah satu pelatih terbaik dunia. Dalam rentang itu, ia cuma sekali juara La Liga.

Zidane meninggalkan Madrid lima hari setelah gelar Liga Champions ketiganya. Alasannya disebut-sebut karena klub butuh perubahan, meski motivasi aslinya tetap tidak jelas. Ia kembali pada Maret tahun berikutnya setelah masa suram Julen Lopetegui dan Santi Solari.

Statistik Dominan, tapi Cara Menangnya Dipertanyakan

Dua gelar liga dalam empat musim penuh. Tiga Liga Champions dalam dua setengah musim pertamanya. Di era dan negara lain, catatan itu sudah cukup membuat Zidane disebut elite tanpa perdebatan.

Di Spanyol satu dekade terakhir, pencapaiannya terasa standar. Madrid dan Barcelona memang memenangi segalanya, jadi pelatih Madrid yang merebut separuh gelar liga bukan hal istimewa.

Ada sejumlah rekor yang tampak tak terbantahkan. Zidane kalah delapan kali dalam 100 laga pertamanya. Timnya mencetak gol dalam 73 pertandingan beruntun, memenangi 16 laga La Liga berturut-turut, dan menang 13 kali beruntun di kandang lawan.

Pertanyaannya kemudian bukan berapa banyak gelar, melainkan bagaimana cara meraihnya. Apakah Madrid menang dengan sepak bola elegan yang sesuai reputasi klub? Jawabannya lagi-lagi ambigu.

Tiga Gelar Eropa yang Minim Bukti Kejeniusan

Tiga kemenangan Liga Champions beruntun justru memberi sedikit bukti soal kebesaran Zidane. Madrid selalu punya kemampuan meraih sukses Eropa di tengah bayangan, seolah mereka memang klub yang menang saat tim lain tidak cukup terinspirasi.

Pada 2016, mereka mengalahkan Roma dan Wolfsburg, lalu melewati Manchester City lewat adu penalti di semifinal berkat gol bunuh diri Fernando. Di final, Atlético Madrid dikalahkan lewat drama penalti yang tidak berkesan.

Musim berikutnya lebih meyakinkan. Madrid menyingkirkan Bayern di perpanjangan waktu, lalu menghancurkan Napoli, Atlético, dan Juventus dengan Cristiano Ronaldo sebagai motor.

Namun 2018 kembali ke kesuksesan yang terasa biasa. Ronaldo dan Luka Modric memang sering brilian, tapi ada juga kelalaian, terutama saat nyaris kehilangan keunggulan tiga gol melawan Juventus di perempat final sebelum diselamatkan penalti akhir.

Kemenangan atas Liverpool di final diwarnai cedera bahu Mohamed Salah setelah berbenturan dengan Sergio Ramos, kesalahan fatal Loris Karius yang mungkin cedera, dan gol spektakuler Gareth Bale.

Aura yang Sulit Diukur

Sulit menemukan satu momen dalam kesuksesan itu yang bisa dipastikan berasal dari kejeniusan kepelatihan Zidane. Ia tidak menciptakan trio Casemiro, Modric, dan Toni Kroos. Ia juga tidak menemukan peran baru untuk Ronaldo atau Bale.

Mungkin Zidane adalah pembisik pemain elite yang mampu menggiring mereka menuju kebesaran. Tapi dari luar, hal itu sulit dibuktikan. Sebagai Zidane, ia tetap tidak terbaca.

Pelatih Madrid kerap menghadapi masalah serupa. Mereka punya pemain hebat, dan pemain hebat melakukan hal-hal hebat. Filosofi dan struktur selalu tampak tunduk pada talenta individu.

Ancelotti, seperti Zidane, sering diremehkan karena dianggap membiarkan pemain bermain bebas. Itu mungkin tidak adil, dan kalaupun benar, mungkin itu juga sebuah keterampilan.

Setidaknya bisa dikatakan Zidane punya aura. Bahkan mereka yang menuduhnya hanya sekadar bertepuk tangan di pinggir lapangan harus mengakui bahwa ada tepukan yang lebih berwibawa daripada yang lain.

Terkini