JAKARTA - Pengelolaan lingkungan di wilayah perkotaan menjadi indikator penting kualitas tata kelola daerah.
Kota besar dihadapkan pada tantangan kompleks seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Konsistensi kebijakan menjadi kunci menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menteri LH ingatkan konsistensi pengelolaan lingkungan di perkotaan sebagai fondasi penilaian kinerja daerah. Pesan ini menekankan bahwa keberhasilan lingkungan tidak boleh bersifat sesaat. Upaya yang dilakukan harus berkesinambungan dan terukur.
Pengelolaan lingkungan yang baik berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat. Kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan kota saling berkaitan. Oleh karena itu, komitmen jangka panjang menjadi sangat penting.
Penekanan Konsistensi dalam Penilaian Adipura
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan pentingnya konsistensi dan kualitas pengelolaan lingkungan. Penegasan ini disampaikan terutama dalam konteks penilaian Adipura. Konsistensi menjadi tolok ukur utama keberhasilan daerah.
"Menteri Lingkungan Hidup (LH)/ Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan pentingnya konsistensi dan kualitas pengelolaan lingkungan terutama dalam penilaian Adipura," kata Menteri LH/Kepala BPLH Hanif.
Pernyataan tersebut menegaskan standar yang harus dipenuhi pemerintah daerah. Penilaian tidak hanya melihat hasil akhir.
Pengelolaan lingkungan dinilai dari proses yang berkelanjutan. Daerah diharapkan tidak hanya fokus saat penilaian berlangsung. Praktik baik harus dijaga sepanjang waktu.
Hasil Kunjungan Lapangan di Surabaya
Hal tersebut disampaikan usai rangkaian kunjungan lapangan di Kota Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari penilaian akhir penghargaan Adipura. Selain itu, kunjungan juga mencakup peninjauan tata kelola nasional.
Dalam peninjauan tersebut, Menteri Hanif mencatat pengelolaan sampah di kawasan utama Surabaya tergolong baik. Sistem yang berjalan menunjukkan hasil positif. Upaya pengelolaan di wilayah utama dinilai relatif terkendali.
Capaian tersebut menjadi indikator komitmen pemerintah kota. Namun, evaluasi tidak berhenti pada kawasan protokol. Wilayah lain juga menjadi perhatian serius.
Catatan Persoalan di Wilayah Nonprotokol
Meski demikian, masih ditemukan persoalan di wilayah nonprotokol. Permasalahan meliputi rendahnya pemilahan sampah dari sumber. Kondisi ini berdampak pada efektivitas pengelolaan.
Selain itu, ditemukan timbunan sampah di badan sungai. Keberadaan tempat pembuangan sampah tidak resmi juga masih muncul. Temuan tersebut menjadi perhatian dalam evaluasi.
Persoalan ini menunjukkan perlunya pengawasan menyeluruh. Pengelolaan lingkungan tidak boleh terfokus pada area tertentu saja. Seluruh wilayah kota harus mendapat perlakuan setara.
Data Timbulan Sampah dan Tantangan Kota Besar
Berdasarkan data terkini, timbulan sampah di Kota Surabaya mencapai 1.811 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.779 ton per hari telah terkelola. Sistem pengumpulan dan pengolahan menjadi penopang utama.
Angka tersebut menunjukkan upaya pengelolaan yang cukup signifikan. Namun, sisa sampah tetap menjadi tantangan. Pengurangan dari sumber menjadi kunci penyelesaian.
Dengan jumlah penduduk lebih dari tiga juta jiwa, Surabaya menghadapi tantangan strategis. Pengelolaan sampah menjadi indikator kualitas hidup perkotaan. Kebersihan dan kesehatan lingkungan saling berkaitan erat.
Peran Kolaborasi dan Pemilahan Sampah
Menteri Hanif menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak. Pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha harus berperan aktif. Kolaborasi menjadi fondasi pengelolaan berkelanjutan.
Pengelolaan sampah yang efektif tidak bisa berjalan sendiri. Partisipasi masyarakat sangat menentukan. Kesadaran bersama harus terus dibangun.
Pemilahan dari sumber menjadi kunci utama pengurangan sampah. Langkah ini dapat menekan volume yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Dengan pemilahan, pengelolaan menjadi lebih efisien.
Konsistensi sebagai Ukuran Keberhasilan
Konsistensi pengelolaan lingkungan menjadi pesan utama dalam evaluasi. Upaya yang dilakukan harus berkelanjutan. Hasil jangka pendek tidak cukup mencerminkan keberhasilan.
Penilaian Adipura menuntut standar yang stabil. Daerah harus menjaga kualitas pengelolaan sepanjang waktu. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh dan objektif.
Pendekatan ini mendorong perbaikan berkelanjutan. Pemerintah daerah diharapkan terus berinovasi. Lingkungan perkotaan yang sehat menjadi tujuan akhir.
Arah Pengelolaan Lingkungan Perkotaan
Pengelolaan lingkungan perkotaan membutuhkan strategi jangka panjang. Tantangan akan terus berkembang seiring pertumbuhan kota. Kebijakan harus adaptif dan konsisten.
Kota besar menjadi etalase tata kelola lingkungan nasional. Keberhasilan di perkotaan memberi dampak luas. Masyarakat merasakan langsung manfaatnya.
Dengan konsistensi dan kolaborasi, pengelolaan lingkungan dapat ditingkatkan. Upaya bersama menjadi kunci keberlanjutan. Lingkungan yang bersih dan sehat adalah tanggung jawab kolektif.