Hipertensi

Kemenkes Sebut 65 Juta Warga Indonesia Alami Hipertensi, Hindari Garam Berlebih

Kemenkes Sebut 65 Juta Warga Indonesia Alami Hipertensi, Hindari Garam Berlebih
Kemenkes Sebut 65 Juta Warga Indonesia Alami Hipertensi, Hindari Garam Berlebih

JAKARTA - Masalah hipertensi masih menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. 

Penyakit ini kerap berkembang secara perlahan tanpa disadari oleh penderitanya. Kesadaran akan pola makan sehat menjadi salah satu kunci penting pencegahan.

Kemenkes Ungkap 65 Juta Warga RI Kena Hipertensi, Soroti Kebiasaan Makan Ini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, memaparkan gambaran kondisi terkini. Ia menyebut sekitar 30 persen atau kurang lebih 65 juta penduduk Indonesia mengalami hipertensi.

Tingginya angka tersebut tidak muncul tanpa sebab yang jelas. Pola hidup yang kurang sehat menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi ini. Salah satu kebiasaan yang paling disorot adalah konsumsi makanan dengan kadar garam tinggi.

Peran Garam dalam Meningkatkan Risiko Hipertensi

dr Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa konsumsi garam memiliki kaitan erat dengan hipertensi. Asupan garam berlebih dapat memicu peningkatan tekanan darah secara bertahap. Hal ini sering kali terjadi tanpa disadari oleh masyarakat.

"Dan garam tadi sangat erat kaitannya dengan penyakit hipertensi," ucapnya dalam pemaparan. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya mengendalikan konsumsi garam harian. Kesadaran ini perlu dibangun sejak dini.

Banyak orang menganggap rasa asin sebagai hal yang wajar dalam makanan sehari-hari. Padahal, tubuh memiliki batas toleransi tertentu terhadap garam. Jika batas ini terlampaui, risiko penyakit tidak menular pun meningkat.

Konsumsi Garam Tinggi dari Makanan Luar Rumah

Menurut dr Nadia, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam sering terjadi tanpa disadari. Kondisi ini banyak ditemukan pada makanan yang dibeli di luar rumah. Rasa gurih kerap menjadi standar kenikmatan makanan.

Ia menjelaskan bahwa garam merupakan zat yang membuat tubuh beradaptasi jika dikonsumsi terus-menerus. Akibatnya, lidah menjadi terbiasa dengan rasa yang semakin kuat. Saat asupan garam dikurangi, makanan justru terasa hambar.

Fenomena ini berdampak pada kebiasaan menambahkan garam saat makan. Banyak orang merasa perlu menambah rasa asin agar makanan terasa lebih nikmat. Padahal, hal tersebut menandakan konsumsi garam sudah berlebihan.

Kebiasaan Menambah Garam Saat Makan

Kebiasaan menambahkan garam di meja makan menjadi perhatian tersendiri. Praktik ini sering ditemukan di berbagai tempat makan. Tanpa disadari, kebiasaan ini menambah asupan garam harian.

"Makanya kenapa seringkali di meja-meja suka ditambahin garam, karena katanya standar antara koki yang masak sama lidah kita beda," ucapnya. Ia menilai kebiasaan tersebut mencerminkan perbedaan persepsi rasa. Padahal, kondisi itu bisa menjadi tanda konsumsi garam berlebih.

"Padahal itu artinya kita mungkin sudah mengkonsumsi garam yang berlebihan," ucapnya lagi. Pernyataan ini menegaskan perlunya evaluasi kebiasaan makan. Pengendalian rasa asin menjadi langkah awal pencegahan hipertensi.

Ikan Asin dan Cara Konsumsi yang Lebih Sehat

dr Nadia juga menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar mengonsumsi ikan asin. Makanan ini dikenal memiliki kandungan garam yang tinggi. Meski demikian, ikan asin tidak sepenuhnya harus dihindari.

Ia menekankan bahwa cara pengolahan ikan asin sangat menentukan kadar garam yang dikonsumsi. Pengolahan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko kesehatan. Kesadaran ini penting untuk diterapkan di rumah.

"Nah kalau kemudian ditambah asupan garam yang cukup tinggi, kita tahu orang Indonesia itu suka apa sih? Makan ikan asin. Bukan berarti nggak boleh makan ikan asin," ucapnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa konsumsi masih diperbolehkan. Namun, pengendalian tetap harus dilakukan.

Pengolahan Makanan untuk Menekan Asupan Garam

Menurut dr Nadia, ikan asin sebaiknya dicuci atau direndam terlebih dahulu sebelum diolah. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi kandungan garam yang menempel. Proses sederhana ini dapat berdampak besar bagi kesehatan.

Selain itu, ia menganjurkan agar proses memasak tidak lagi menambahkan garam berlebihan. Bumbu alternatif dapat digunakan untuk memperkaya rasa. Cara ini membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.

"Boleh makan ikan asin, tapi sebelum digoreng, kurangi kadar asinnya," katanya. Ia menekankan pentingnya proses awal sebelum memasak. Kesadaran kecil ini dapat mencegah risiko besar.

Upaya Perubahan Pola Makan Masyarakat

"Kemudian kita tahu bisa-bisanya dicuci atau direndam dulu sehingga kadar asinnya sudah berkurang," katanya lagi. Ia menilai langkah tersebut mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi menjadi kunci perubahan perilaku makan.

"Dan sebaiknya pengolahan makanan sudah tidak lagi menggunakan tadi kadar garam yang terlalu berlebihan," katanya. Pesan ini menjadi penutup penting dalam upaya pencegahan hipertensi. Pola makan sehat perlu menjadi kebiasaan bersama.

Dengan perubahan kecil namun konsisten, risiko hipertensi dapat ditekan. Kesadaran akan konsumsi garam menjadi fondasi utama. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index