Kerak Bumi Turkana Rift Menipis, Afrika Timur Menuju Perpecahan Benua

Minggu, 20 September 2026 | 12:07:00 WIB
Kerak Bumi Turkana Rift Menipis, Afrika Timur Menuju Perpecahan Benua

LIPUTANEKONOMI.COM — Penelitian terbaru mengungkap kerak Bumi di Turkana Rift, Kenya dan Ethiopia, hanya tersisa sekitar 13 kilometer, menandai tahap lanjut proses perpecahan Benua Afrika. Zona retakan sepanjang 500 kilometer itu merupakan bagian dari East African Rift System yang terus meregang sejak jutaan tahun lalu. Jika proses berlanjut, lautan baru berpotensi terbentuk di antara Afrika Timur dan bagian benua lainnya.

Tim geosaintis dari Columbia University menganalisis data seismik untuk memetakan struktur bawah permukaan Turkana Rift. Hasilnya, kerak di bagian tengah retakan tercatat hanya setebal 13 kilometer, jauh lebih tipis dibanding tepi zona retakan yang masih di atas 35 kilometer.

Ketebalan di bawah 15 kilometer menandakan wilayah tersebut sudah masuk fase necking, tahap ketika deformasi terpusat di sepanjang sumbu retakan. Kerak yang menipis membuat batuan semakin lemah dan mempercepat proses pemisahan.

    Mengapa Afrika Timur Retak Lebih Cepat dari Perkiraan

    Christian Rowan, geosaintis Columbia University yang terlibat penelitian, menyebut temuan ini mengubah pemahaman sebelumnya soal kecepatan retakan di Afrika Timur.

    "Kami menemukan bahwa proses retakan di zona ini lebih maju, dan keraknya lebih tipis, daripada yang selama ini diketahui," kata Rowan, dikutip dari Science Alert.

    "Afrika Timur telah mengalami kemajuan lebih jauh dalam proses retakan dibandingkan perkiraan sebelumnya," imbuhnya.

    Studi memperkirakan fase necking di Turkana Rift dimulai sekitar 4 juta tahun lalu. Artinya, pemisahan benua di kawasan itu bukan fenomena baru, melainkan proses geologi yang sudah berjalan sangat panjang.

    Bagaimana Lautan Baru Terbentuk

    Saat dua bagian kerak terus bergerak menjauh, kerak benua meregang dan menipis. Magma dari bawah permukaan kemudian naik melalui bagian kerak yang kian tipis, mendingin, dan membentuk batuan baru.

    Proses jangka panjang itu dapat menghasilkan kerak samudra, tahap yang disebut oceanization. Ketika cekungan baru terbuka, air laut dari wilayah sekitar berpotensi masuk dan membentuk lautan yang memisahkan Afrika Timur dari bagian benua lainnya.

    Para ilmuwan menegaskan perpecahan ini tidak akan terjadi dalam hitungan tahun atau abad. Prosesnya masih butuh beberapa juta tahun, sangat lambat dalam skala hidup manusia, tetapi relatif cepat dalam sejarah geologi Bumi.

    Kaitan dengan Fosil Manusia Purba di Turkana

    Turkana Rift dikenal sebagai kawasan penting penelitian evolusi manusia karena banyak ditemukan fosil hominin, termasuk manusia purba. Penelitian terbaru menawarkan penjelasan mengapa fosil begitu melimpah di sana.

    Ketika necking dimulai sekitar 4 juta tahun lalu, perubahan tektonik meningkatkan sedimentasi di kawasan Turkana. Lapisan sedimen tebal kemudian mengubur dan mengawetkan sisa-sisa makhluk hidup.

    "Kesesuaian waktu antara perubahan tektonik ini dan munculnya lapisan tebal yang terus-menerus mengandung fosil menunjukkan bahwa fase necking menyediakan kondisi penting bagi pelestarian fosil," tulis para peneliti dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

    Dengan kata lain, banyaknya fosil manusia purba di Turkana mungkin bukan semata karena kawasan itu istimewa bagi kehidupan purba. Proses geologi yang perlahan merobek Afrika justru menciptakan kondisi ideal untuk mengawetkan jejak kehidupan masa lalu.

Terkini