Rupiah

Indeks Dollar Menguat Rupiah Berpotensi Sentuh Rp 17.000 Hari Ini

Indeks Dollar Menguat Rupiah Berpotensi Sentuh Rp 17.000 Hari Ini
Indeks Dollar Menguat Rupiah Berpotensi Sentuh Rp 17.000 Hari Ini

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal pekan ini. Tekanan dari berbagai faktor global membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tantangan yang cukup besar dalam beberapa hari terakhir.

Situasi geopolitik internasional yang memanas serta lonjakan harga energi dunia menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang global. Kondisi tersebut juga memicu penguatan indeks dollar AS sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar berbagai mata uang, terutama di negara berkembang.

Di tengah kondisi tersebut, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam perdagangan hari ini. Namun, kecenderungannya masih menunjukkan potensi pelemahan seiring dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan kenaikan harga komoditas energi.

Nilai tukar di pasar spot pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026 diperkirakan terus melemah, setelah terdepresiasi 0,14 persen ke posisi Rp 16.949 per dollar AS ketika penutupan perdagangan Senin kemarin.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa mata uang Garuda fluktuatif tapi ditutup melemah di kisaran Rp 16.950- Rp 17.000 per dollar AS.

"Indeks dollar AS menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah dan lonjakan harga energi dunia. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," katanya.

Tekanan Global Dorong Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Dari sisi eksternal, harga minyak dunia melonjak hingga sekitar 30 persen dan menembus posisi 100 dollar AS per barrel, mendekati level tertinggi yang pernah terjadi pada awal konflik Rusia-Ukraina pada 2022.

“Harga minyak melonjak hingga 30 persen, jauh melampaui 100 dollar per barrel dan mendekati level tertinggi yang terlihat selama awal perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022,” ucapnya.

Lonjakan harga minyak tersebut dipicu oleh serangan udara yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap sejumlah fasilitas minyak Iran pada akhir pekan lalu. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap beberapa fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah.

“Serangan udara Israel dan AS menargetkan fasilitas minyak Iran selama akhir pekan, sementara Teheran membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap beberapa fasilitas minyak di negara-negara Timur Tengah,” paparnya.

Ketegangan tersebut semakin meningkat setelah Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi strategis yang menjadi salah satu sumber pasokan minyak utama bagi negara-negara Asia.

Gangguan terhadap jalur distribusi energi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pasokan minyak global, jika Selat Hormuz benar-benar ditutup dalam waktu lama.

Situasi geopolitik juga semakin memanas setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Penunjukan ini dinilai menunjukkan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali di Teheran di tengah konflik yang terjadi dengan Amerika Serikat dan Israel.

Data Inflasi China Turut Menjadi Perhatian Pasar

Selain faktor geopolitik, pasar global juga mencermati perkembangan ekonomi di Asia.

Data pemerintah China menunjukkan bahwa inflasi indeks harga konsumen (CPI) China tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Februari, lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 0,9 persen dan menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam tiga tahun terakhir.

“Di Asia, inflasi indeks harga konsumen Tiongkok tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada bulan Februari, menurut data pemerintah. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0,9 persen, dan juga tumbuh dengan laju tercepat dalam tiga tahun,” beber Ibrahim.

Kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya pengeluaran selama periode liburan Tahun Baru Imlek yang lebih panjang. Permintaan terhadap perjalanan, jasa, dan barang konsumsi meningkat signifikan selama periode tersebut.

Meski demikian, indeks harga produsen (PPI) China masih mengalami kontraksi sehingga pasar masih menunggu sinyal apakah tekanan inflasi di negara tersebut akan berlanjut setelah lonjakan permintaan selama liburan.

Lonjakan Harga Energi Berpotensi Tekan Fiskal Indonesia

Sementara dari sisi domestik, lonjakan harga minyak dunia juga berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Harga minyak yang telah menembus 92 dollar AS per barrel, menjadi tertinggi sejak 2020 dan jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang menetapkan harga minyak di kisaran 70 dollar AS per barrel.

Jika harga minyak terus meningkat hingga mendekati atau melampaui 100 dollar AS per barrel, tekanan terhadap anggaran negara diperkirakan akan semakin besar.

Dalam kondisi tersebut, defisit APBN berpotensi meningkat hingga sekitar Rp 6,8 triliun.

Bahkan, jika lonjakan harga energi terus berlanjut, rasio defisit anggaran terhadap produk domestik bruto (PDB) berpotensi mendekati 4 persen.

Angka tersebut dinilai cukup berisiko karena melampaui batas defisit 3 persen yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Menurut Ibrahim, salah satu penyebab utama lonjakan harga energi adalah terganggunya jalur distribusi minyak global akibat situasi di Selat Hormuz yang merupakan choke point bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Strategi Pemerintah Menjaga Stabilitas Ekonomi

Dalam menghadapi situasi tersebut, pemerintah dinilai perlu mengambil sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Langkah pertama adalah melakukan efisiensi anggaran negara secara signifikan dengan memprioritaskan belanja yang langsung berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, serta program pengentasan kemiskinan.

Langkah kedua adalah mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi minyak dengan mempercepat program konversi energi menuju energi baru dan terbarukan.

Program tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan energi surya melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), energi air melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta energi angin melalui pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) sebagai alternatif pengganti pembangkit listrik tenaga diesel.

Selain itu, stimulus ekonomi juga dinilai perlu diperkuat melalui langkah deregulasi guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Pemerintah diharapkan dapat memangkas berbagai regulasi yang dinilai menghambat aktivitas ekonomi serta menyederhanakan birokrasi yang selama ini dianggap menyulitkan dunia usaha.

Dengan langkah-langkah tersebut, stabilitas ekonomi diharapkan tetap terjaga meskipun tekanan dari faktor eksternal masih cukup besar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index