JAKARTA - Pimpinan Komisi VI DPR RI, Nurdin Halid, memberikan apresiasi atas capaian kinerja entitas tambang yang tergabung dalam holding MIND ID sepanjang 2025.
Penghargaan ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang membahas evaluasi kinerja PT Inalum, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk, dan PT Aneka Tambang Tbk. Ia menekankan bahwa keempat entitas tersebut mampu mempertahankan kinerja positif meski menghadapi tekanan harga komoditas global.
Menurut Nurdin, sektor pertambangan memiliki peran strategis dalam mendorong hilirisasi mineral serta transformasi ekonomi nasional berbasis nilai tambah.
Keempat perusahaan itu dinilai menjadi tulang punggung pembangunan rantai pasok industri dari hulu hingga hilir. DPR juga menekankan pentingnya penguatan fundamental industri agar kontribusi hilir terhadap profitabilitas meningkat.
Ia menambahkan bahwa percepatan pembangunan smelter dan refinery perlu diimbangi dengan kesiapan cadangan, integrasi hulu-hilir, serta ketahanan keuangan. Penguatan integrasi antar-entitas juga dianggap krusial untuk menjaga keberlanjutan industri. Hal ini menjadi perhatian DPR dalam memastikan investasi dan strategi industri lebih selektif dan berkelanjutan.
Kinerja Keuangan dan Produksi ANTAM
Direktur Utama PT Aneka Tambang, Untung Budiharto, memaparkan capaian perusahaan hingga kuartal III 2025 yang menunjukkan penguatan signifikan.
Pendapatan ANTAM tercatat mencapai Rp72 triliun, meningkat 67 persen secara tahunan, didorong oleh peningkatan volume bijih nikel dan harga emas yang solid. Laba bersih meningkat dari Rp2,2 triliun menjadi Rp6,6 triliun, mencerminkan kinerja operasional yang kuat.
Dari sisi produksi, bijih nikel ANTAM mencapai 12,6 juta wet metric ton (WMT), sementara alumina tumbuh 27 persen menjadi 134 ribu ton. Selain itu, produksi bauksit juga meningkat signifikan menjadi 2,3 juta WMT. Perusahaan menargetkan peningkatan produksi lebih lanjut pada 2026 seiring penguatan hilirisasi dan pembangunan fasilitas pengolahan.
Keberhasilan ini dianggap sebagai hasil dari strategi pengelolaan sumber daya dan optimalisasi kapasitas pabrik yang berkesinambungan. ANTAM terus fokus pada peningkatan efisiensi dan pemanfaatan potensi cadangan mineral. Hal ini menjadi dasar pertumbuhan jangka panjang serta ketahanan perusahaan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Strategi Pemasaran dan Kinerja PT Bukit Asam
Direktur Utama PT Bukit Asam, Arsal Ismail, menyampaikan bahwa perusahaan tetap mampu mencatatkan kinerja positif meski harga batu bara mengalami normalisasi.
Strategi pemasaran yang tepat membuat pendapatan tetap meningkat di tengah pelemahan harga global. Pendapatan PTBA tercatat meningkat menjadi Rp10,88 triliun pada kuartal III 2025.
Secara tahunan, pendapatan perusahaan juga tumbuh menjadi Rp31,33 triliun, didorong oleh peningkatan volume penjualan terutama pada segmen high-calorie value (HCV).
Meski demikian, harga jual rata-rata mengalami penurunan sekitar enam persen seiring turunnya indeks harga batubara global. Strategi perusahaan menekankan pada keseimbangan antara volume penjualan dan optimalisasi harga untuk menjaga profitabilitas.
DPR menekankan pentingnya menjaga integrasi antara produksi dan pemasaran agar kinerja perusahaan tetap solid. Hal ini juga menjadi landasan dalam menetapkan roadmap hilirisasi berbasis cadangan dan kebutuhan pasar. Perencanaan yang matang dianggap penting agar investasi dapat memberikan nilai tambah maksimal bagi industri dan perekonomian nasional.
Kinerja PT Inalum dan PT Timah
Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium, Melati Sarnita, menjelaskan bahwa kinerja keuangan konsolidasi perseroan menunjukkan tren positif. Laba bersih 2025 tercatat mencapai 142,8 juta dolar AS, meningkat 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan konsolidasi naik menjadi 785,7 juta dolar AS, sementara EBITDA melonjak menjadi 208,7 juta dolar AS.
Produksi aluminium mencapai 280 ribu ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh implementasi proyek pot upgrading yang meningkatkan kapasitas dan efisiensi teknologi smelter.
Net profit margin perusahaan juga naik dari 17,3 persen menjadi 18,2 persen. Langkah-langkah ini menunjukkan efisiensi operasional yang mendukung kinerja keuangan dan keberlanjutan industri.
Direktur Utama PT Timah, Restu Wibowo, menegaskan bahwa kinerja operasional perusahaan tetap solid di tengah dinamika industri global. Produksi bijih timah pada 2025 tercatat 18.635 ton, sedangkan produksi logam timah mencapai 17.815 metrik ton.
Penjualan logam timah tercatat sebesar 16.634 metrik ton, menunjukkan ketahanan operasional dan perbaikan tata kelola yang signifikan.
Dorongan Hilirisasi dan Penguatan Integrasi
Komisi VI DPR menekankan pentingnya penataan roadmap hilirisasi berbasis cadangan dan kebutuhan pasar. Penguatan integrasi antar entitas MIND ID juga dianggap krusial untuk memastikan sinergi maksimal.
DPR mendorong kehati-hatian dalam pengambilan keputusan investasi serta membahas wacana moratorium pembangunan smelter alumina dan aluminium agar lebih selektif.
Sinergi antara penguatan produksi hulu dan hilirisasi menjadi fokus utama strategi industri. Peningkatan kapasitas smelter dan refinery harus diimbangi dengan cadangan dan integrasi operasional yang matang. Langkah ini akan memastikan pertumbuhan berkelanjutan sekaligus menjaga profitabilitas dan daya saing perusahaan di pasar global.
Komisi VI DPR menilai bahwa kolaborasi antar-entitas, perencanaan investasi yang hati-hati, serta fokus pada efisiensi operasional menjadi kunci keberhasilan holding MIND ID.
Dengan strategi yang tepat, entitas tambang dapat mendukung transformasi ekonomi nasional melalui hilirisasi mineral dan penguatan rantai pasok industri. Keberhasilan ini menjadi bukti ketahanan dan profesionalisme perusahaan di tengah tantangan global.