Akuisisi Emiten

Geliat Akuisisi Emiten Awal 2026 Dari BABY Sampai PTRO

Geliat Akuisisi Emiten Awal 2026 Dari BABY Sampai PTRO
Geliat Akuisisi Emiten Awal 2026 Dari BABY Sampai PTRO

JAKARTA - Memasuki awal tahun, dinamika pasar modal kembali diwarnai aksi korporasi berskala besar. Sejumlah emiten memilih memanfaatkan momentum awal 2026 untuk memperluas bisnis melalui jalur anorganik. 

Dari sektor energi, pertambangan, ritel hingga teknologi, langkah akuisisi ditempuh guna memperkuat posisi dan menciptakan sinergi usaha jangka panjang.

Aksi ekspansi ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengandalkan pertumbuhan organik, tetapi juga mempercepat penetrasi pasar melalui pengambilalihan saham. Strategi tersebut diyakini mampu meningkatkan kapasitas operasional sekaligus memperluas rantai nilai bisnis masing-masing entitas.

Awal 2026 menjadi momentum yang dipilih sejumlah emiten untuk melancarkan aksi akuisisi. Aksi korporasi anorganik itu ditempuh PT Multitrend Indo Tbk (BABY) hingga PT Petrosea Tbk (PTRO).

Ekspansi Petrosea Perkuat Rantai Nilai Bisnis

Teranyar, Emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk. (PTRO) menempuh aksi ekspansi anorganik dengan mengakuisisi saham dua perusahaan jasa pelabuhan.

Sekretaris Perusahaan Petrosea Anto Broto menyampaikan perusahaan mengambil alih mayoritas saham PT Vista Maritim Asia dan PT Nusantara Arung Samudera. Sebagai informasi, PT Vista Maritim Asia bergerak dalam bidang aktivitas pelayanan kepelabuhanan laut. Begitu pula dengan PT Nusantara Arung Samudera.

Anto menjabarkan perseroan melalui entitas anak yang dimiliki secara tidak langsung, PT Petrosindo Sinergi Alur (PSA) telah menandatangani perjanjian pembelian 55% saham PT Vista Maritim Asia pada 24 Februari 2026. Saham itu dibeli dari Kastomo sebesar 55% dan 5% dari Jalu Yogo Santoso senilai Rp550 juta.

Sementara itu, akuisisi 55% saham PT Nusantara Arung Samudera dilakukan PTRO melalui entitas anak tidak langsung PT Petrosindo Sinergi Samudera. Saham itu dibeli dari Karen Nathani 45% dan Maifian Juni Chandra 10% dengan nilai pembelian Rp550 juta.

“Pengambilalihan saham VMA dan NAS akan memperkuat sinergi operasional melalui integrasi rantai nilai pit-to-port guna mendukung ekspansi usaha perseroan,” tulisnya.

Manajemen Petrosea menilai aksi akuisisi saham VMA dan NAS akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja operasional perseroan. Selain itu, transaksi tersebut merupakan bagian dari strategi pengembangan operasional PTRO untuk meningkatkan sinergi antarentitas dalam perseroan.

Setelah transaksi, komposisi kepemilikan saham VMA dan NAS terdiri atas PSS 55%, PT Adamas Indonesia Energi 31,5%, dan PT Wisesa Maritim Nusantara 13,5%.

Langkah Strategis MEJA Di Sektor Batu Bara

Sebelumnya, aksi akuisisi juga sedang dimatangkan PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA). Saat ini, MEJA menggodok rencana akuisisi 45% saham tambang batu bara PT Trimitra Coal Perkasa (TCP), yang dilaksanakan mulai kuartal III/2026.

PT Trimitra Coal Perkasa (TCP), merupakan pemain potensial di sektor batu bara dengan aset skala besar di Sumatera Selatan. Luas konsesi mencapai sekitar 11.640 hektare.

Direktur Utama Harta Djaya Karya Richie Adrian Hartanto S, dalam keterbukaan informasi menjelaskan perseroan akan mengakuisisi 45% saham TCP senilai Rp1,6 triliun. Nilai akuisisi sebesar Rp1,6 triliun didasarkan pada kesepakatan awal yang merujuk pada transaksi serupa dengan pihak lain sebelumnya.

Nilai akuisisi tergolong lebih besar dibandingkan aset perseroan per Juni 2025 senilai Rp107,08 miliar. Manajemen menekankan bahwa angka tersebut masih dapat berubah mengikuti hasil penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang saat ini dalam proses penunjukan.

"Perseroan meyakini akuisisi 45% kepemilikan saham TCP akan memberikan manfaat valuasi yang konkret terhadap perseroan dan pemegang saham," paparnya.

BABY Dan INET Perluas Ekosistem Bisnis

Senada, pengelola Mothercare PT Multitrend Indo Tbk (BABY) akan mengambil alih distributor mainan PT Emway Globalindo (EGI) senilai Rp269,98 miliar lewat penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I) atau rights issue dan fasilitas pinjaman bank. 

Pengambilalihan EGI ini akan dilakukan melalui dua mekanisme yaitu penyetoran modal dalam bentuk selain uang (inbreng saham) serta pembelian saham secara langsung.

"PT Emway Globalindo merupakan distributor mainan terkemuka di Indonesia, dan pelaksanaan PMHMETD akan meningkatkan kapabilitas keuangan dan operasional Perseroan secara signifikan," tulis manajemen BABY.

Adapun, emiten teknologi PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) siap mengakuisisi saham PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) sebesar 53,57% dengan nilai transaksi mencapai Rp106,39 miliar. Aksi korporasi ini dilakukan dalam rangka mendukung ekspansi dan pengembangan bisnis perseroan.

Direktur INET Willy Usulangi mengatakan transaksi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperluas portofolio usaha perseroan, sekaligus menciptakan sinergi antara layanan digital dan layanan operasional berbasis sumber daya manusia.

“Melalui akuisisi PADA, perseroan dapat memperluas portofolio bisnis dari layanan digital dan teknologi ke layanan outsourcing dan manajemen SDM berbasis teknologi, sehingga menciptakan ekosistem layanan human-tech yang terintegrasi,” ujar Willy.

Gelombang akuisisi pada awal 2026 ini mencerminkan optimisme korporasi terhadap prospek ekonomi dan pasar domestik. Dengan strategi ekspansi anorganik yang terukur, para emiten berharap mampu memperkuat daya saing sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka panjang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index