Yusril

Yusril Buka Kesempatan Pemerintah Meninjau Bebas Visa dengan Uni Emirat Arab

Yusril Buka Kesempatan Pemerintah Meninjau Bebas Visa dengan Uni Emirat Arab
Yusril Buka Kesempatan Pemerintah Meninjau Bebas Visa dengan Uni Emirat Arab

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, membuka peluang kajian pembebasan visa dengan Uni Emirat Arab (UEA). 

Kajian ini menekankan pembebasan visa secara timbal balik serta kerja sama penerbangan kedua negara. “Khususnya untuk mendukung peningkatan layanan jamaah umrah,” kata Yusril.

Dalam pertemuan bilateral dengan Duta Besar UEA untuk Indonesia, Yusril menekankan pentingnya meningkatkan mobilitas masyarakat kedua negara. Ia mengapresiasi kemajuan kerja sama di bidang perdagangan dan energi, termasuk minyak dan gas. Yusril juga menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai penguatan kerja sama di sektor strategis.

Lebih lanjut, Yusril menekankan bahwa langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional. 

Pembentukan Danantara serta kerja sama dengan Dubai Fund dinilai mampu mendorong investasi dan inovasi di berbagai sektor. Yusril menegaskan bahwa pembebasan visa merupakan salah satu bagian dari strategi konektivitas bilateral.

Perluasan Kerja Sama Sektor Strategis

Yusril menegaskan kerja sama Indonesia–UEA berpotensi diperluas ke bidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan kesehatan. Ia mengapresiasi dukungan UEA dalam pembangunan masjid dan fasilitas kesehatan di Indonesia. Selain itu, Yusril berharap kerja sama di bidang kedokteran dapat mengatasi keterbatasan dokter dan rumah sakit berteknologi tinggi.

Menurut Yusril, Indonesia dan UEA memiliki peluang besar dalam pengembangan sumber daya manusia. Pendidikan dan pelatihan menjadi pilar penting dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja. Kerja sama pendidikan juga diharapkan membuka lapangan kerja baru dan alih pengetahuan bagi generasi muda.

Selain itu, Yusril menekankan perlunya integrasi teknologi dan inovasi dalam sektor strategis. Kerja sama bilateral dapat mempercepat adopsi teknologi tinggi di bidang kesehatan dan pendidikan. Hal ini diharapkan memberikan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat Indonesia.

Penguatan Konektivitas Penerbangan

Menanggapi hal ini, Dubes UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem Aldhahheri, menyampaikan rencana Etihad Airways membuka penerbangan langsung Abu Dhabi–Medan dan Abu Dhabi–Surabaya. 

Sementara itu, Emirates Airlines sedang mengurus perizinan pengoperasian pesawat berbadan lebar. Langkah ini bertujuan meningkatkan konektivitas penerbangan antara Indonesia dan UEA.

Peningkatan rute penerbangan diharapkan mempermudah mobilitas masyarakat, baik untuk keperluan bisnis maupun pariwisata. Yusril menekankan bahwa konektivitas udara yang lebih baik mendukung penguatan hubungan ekonomi kedua negara. Langkah ini juga sejalan dengan strategi pemerintah meningkatkan arus perdagangan dan investasi bilateral.

Selain itu, pengembangan penerbangan langsung akan mempermudah akses jamaah umrah dan wisatawan. Infrastruktur transportasi yang terintegrasi diharapkan mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. Peningkatan jumlah penerbangan juga menjadi indikator kepercayaan investor terhadap stabilitas hubungan bilateral.

Sejarah dan Pencapaian Hubungan Bilateral

Yusril menegaskan hubungan bilateral Indonesia–UEA terus berkembang signifikan. Presiden Indonesia telah tiga kali melakukan kunjungan ke UEA, dan kedua negara telah memperingati 50 tahun hubungan diplomatik. Rencana kunjungan Presiden UEA ke Indonesia juga menjadi bukti kedekatan dan kerja sama yang semakin strategis.

Menurut Yusril, hubungan bilateral kini tidak hanya berfokus pada sektor tradisional seperti pelabuhan dan minyak. Saat ini, kerja sama telah merambah sektor energi terbarukan, pertahanan, kesehatan, dan pendidikan. Kerja sama yang lebih luas ini diharapkan meningkatkan sinergi dan manfaat ekonomi bagi kedua negara.

Ia mencontohkan sejumlah proyek konkret, seperti pendirian rumah sakit jantung di Solo dan pengembangan pusat studi bakau di Bali. Selain itu, ada kerja sama pendidikan antara Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta dan Universitas Zayed di bidang humaniora. Proyek-proyek tersebut diharapkan membuka lapangan kerja dan mendorong alih pengetahuan.

Potensi dan Tantangan Kerja Sama Lanjutan

Yusril menekankan masih terdapat potensi kerja sama yang perlu diperkuat, khususnya di sektor panas bumi bersama PT Pertamina (Persero) Tbk. Ia menyadari bahwa sebagian kerja sama tersebut belum sepenuhnya bersifat bilateral. Namun, peluang untuk memperluas kerjasama teknologi dan investasi tetap terbuka lebar.

Kedua negara juga dapat meningkatkan kolaborasi dalam pembangunan infrastruktur strategis. Kerja sama di bidang kesehatan, energi, dan pendidikan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Yusril menegaskan bahwa upaya ini bertujuan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.

Selain itu, pembebasan visa diharapkan meningkatkan mobilitas masyarakat dan perdagangan bilateral. Langkah ini menjadi instrumen penting dalam memperkuat hubungan diplomatik dan ekonomi. Yusril menegaskan, semua inisiatif dilakukan untuk menjadikan kerja sama Indonesia–UEA lebih inklusif dan berdampak luas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index