Dengue

Dengue Tetap Jadi Masalah Kesehatan Dominan di Indonesia Selama Puluhan Tahun

Dengue Tetap Jadi Masalah Kesehatan Dominan di Indonesia Selama Puluhan Tahun
Dengue Tetap Jadi Masalah Kesehatan Dominan di Indonesia Selama Puluhan Tahun

JAKARTA - Dengue tetap menjadi penyakit yang dominan di Indonesia selama lebih dari lima dekade. 

Data menunjukkan kasus demam berdarah dengue (DBD) muncul berulang di berbagai daerah dari 1968 hingga kini. Kondisi ini menegaskan perlunya strategi pengendalian berkelanjutan untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Kementerian Kesehatan mencatat dengue sebagai salah satu penyakit menular yang menonjol di Indonesia. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit menjelaskan bahwa penyakit ini terus muncul dengan pola berulang. Penyebaran DBD sangat dipengaruhi faktor lingkungan dan iklim yang kompleks.

Fenomena El Nino dan La Nina memiliki peran besar dalam peningkatan risiko penularan. Perubahan curah hujan dan suhu menjadi pemicu munculnya wabah di sejumlah wilayah. Hal ini menambah kompleksitas upaya pengendalian penyakit yang telah dilakukan.

Pengaruh Iklim terhadap Penyebaran Dengue

Transmisi DBD tidak hanya dipengaruhi keberadaan nyamuk, tetapi juga pola iklim yang berubah. Curah hujan yang tinggi menciptakan genangan air sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Sementara suhu yang meningkat mempercepat siklus hidup nyamuk, meningkatkan kemungkinan penularan.

Perubahan iklim ekstrem seperti El Nino dan La Nina memicu fluktuasi yang signifikan pada curah hujan dan suhu. Kondisi ini membuat pengendalian vektor menjadi tantangan tersendiri. Oleh sebab itu, strategi adaptif berbasis iklim menjadi kunci menekan angka penularan.

Upaya pengendalian dengue tidak bisa hanya bersifat reaktif. Pemetaan wilayah rawan dan prediksi cuaca membantu menentukan prioritas intervensi. Dengan begitu, sumber penularan dapat diminimalkan secara lebih efektif.

Kasus Dengue dan Distribusi Wilayah

Skala wilayah Indonesia yang luas menambah tantangan pengendalian dengue. Dari lebih 500 kabupaten dan kota, sekitar 92% diklasifikasikan sebagai daerah endemis DBD. Pada 2025, tercatat 161.752 kasus dengan kematian lebih dari 600 orang, menunjukkan beban penyakit yang masih signifikan.

Angka kematian tidak merata di seluruh daerah, dengan beberapa wilayah menembus target nasional. Serang Barat, Donggala, Solok Selatan, Kota Salatiga, dan Sumba Timur menjadi fokus utama intervensi. Strategi penanganan khusus disiapkan agar angka kematian dapat ditekan sesuai target nasional.

Intervensi yang dilakukan meliputi pengendalian lingkungan, vektor, dan manusia secara terkoordinasi. Pengelolaan air, pembangunan infrastruktur, serta pendekatan kimia dan teknologi nyamuk menjadi langkah utama. Kombinasi ini diharapkan mampu menekan transmisi secara berkelanjutan.

Strategi Pengendalian dan Tantangan

Pengendalian dengue membutuhkan langkah inovatif dan terintegrasi. Sistem surveilans dan deteksi dini menjadi prioritas agar respons lebih cepat terhadap munculnya kasus. Selain itu, kapasitas fasilitas kesehatan perlu ditingkatkan untuk menampung pasien dengan DBD.

Keterlibatan masyarakat lintas sektor juga krusial dalam menekan angka penularan. Edukasi, partisipasi dalam pengelolaan lingkungan, serta kesadaran vaksinasi menjadi bagian dari strategi kolektif. Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 dirancang untuk menguatkan seluruh komponen ini.

Rencana tersebut sejalan dengan target global nol kematian dengue pada 2030. Strategi mencakup penguatan deteksi dini, tata laksana klinis, pengendalian faktor risiko, termasuk vaksinasi, serta sistem informasi terintegrasi. Dengan pendekatan menyeluruh ini, Indonesia menargetkan penurunan kasus dan kematian DBD secara signifikan.

Langkah Ke Depan

Dengue masih menjadi penyakit dominan di Indonesia sejak 1968, menuntut perhatian berkelanjutan dari pemerintah dan masyarakat. Upaya pengendalian harus menggabungkan pengelolaan lingkungan, vektor, dan sistem kesehatan. Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan angka penularan dan kematian.

Penerapan inovasi berbasis iklim dan teknologi dapat meningkatkan efektivitas intervensi. Dengan koordinasi yang tepat, penanganan DBD di daerah endemis dapat lebih cepat dan akurat. Strategi ini diharapkan mendukung target nasional serta mendekatkan Indonesia pada tujuan nol kematian dengue pada 2030.

Penguatan sistem surveilans dan fasilitas kesehatan, dikombinasikan edukasi masyarakat, menjadi langkah penting. Pemerintah menekankan perlunya inovasi berkelanjutan agar pengendalian dengue efektif di seluruh wilayah. Dengan demikian, upaya ini tidak hanya mengurangi kasus, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index