Danantara

Danantara Groundbreaking Sepuluh Proyek Hilirisasi Nasional 2026

Danantara Groundbreaking Sepuluh Proyek Hilirisasi Nasional 2026
Danantara Groundbreaking Sepuluh Proyek Hilirisasi Nasional 2026

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) kembali mempersiapkan langkah strategis untuk mendorong industri hilirisasi di Indonesia. 

Chief Operating Officer (COO) Dony Oskaria menyatakan bahwa minggu depan pihaknya akan melakukan groundbreaking sepuluh proyek baru, sebagai kelanjutan dari enam proyek yang telah dibuka sebelumnya.

Menurut Dony, keseluruhan 21 proyek hilirisasi yang direncanakan pada 2026 memiliki nilai investasi mencapai Rp600-an triliun. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi nasional, tetapi juga membuka peluang kerja yang signifikan bagi masyarakat.

“Dampaknya signifikan dorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, kedua tentu berikan dampak lapangan kerja yang signifikan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Dony.

Proyek Strategis di Sektor Mineral dan Energi

Di antara enam proyek yang telah digelar groundbreaking sebelumnya, smelter aluminium baru menjadi sorotan utama. Terletak di Mempawah, Kalimantan Barat, smelter ini dirancang dengan kapasitas 600.000 metrik ton aluminium per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery Fase II sebesar 1 juta metrik ton alumina per tahun. 

Proyek ini dikerjakan oleh MIND ID bersama anggota Inalum dan Antam, dengan tujuan memperkuat ketahanan mineral Indonesia serta mendukung sektor manufaktur dalam negeri.

Selain smelter, proyek bioethanol Glenmore fase 1 di Banyuwangi, Jawa Timur, digarap PTPN III dan Pertamina. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi 100 KLPD, mendukung ketahanan energi, diversifikasi bisnis, dan pengurangan emisi. 

Sementara proyek Biorefinery Cilacap oleh PT Pertamina memiliki kapasitas pengolahan 6 ribu barel per hari minyak jelantah dan telah menghasilkan 27 KL Sustainable Aviation Fuel (SAF) per hari, yang diproyeksikan meningkat menjadi 887 KL pada 2029. 

Proyek ini mendukung transisi energi, mengurangi impor Avtur, serta memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penciptaan lapangan kerja.

Hilirisasi Pertanian dan Pangan Mendukung Kedaulatan Nasional

Di sektor pertanian dan pangan, pabrik bioethanol berbasis tebu di Banyuwangi digarap PT Pertamina dan anak usaha PT Perkebunan Nusantara. 

Pabrik ini menargetkan produksi 30 ribu KL per tahun, mendukung energi transisi, pertanian berkelanjutan, serta pengurangan impor BBM. Proyek ini juga memberdayakan lebih dari 4.000 petani dan tenaga kerja lokal, sekaligus menurunkan emisi sebesar 66 ribu ton setara CO2 per tahun.

Selain itu, hilirisasi poultry terintegrasi di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, dibangun oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)/ID FOOD melalui anak usaha PT Berdikari. 

Fasilitas ini menempati lahan 5,6 hektar dan dirancang untuk mendukung sektor pangan, memperkuat rantai nilai industri nasional, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hilirisasi Garam dan Industri Berbasis Teknologi Modern

Transformasi industri garam juga menjadi fokus Danantara. Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2 dan dua fasilitas lainnya menggunakan teknologi MVR (Mechanical Vapor Recompression) di Kabupaten Sampang dan Manyar, Gresik, dengan total kapasitas 380.000 ton per tahun. 

Proyek ini memperkuat pasokan garam industri, meningkatkan kualitas produk, dan mendorong optimalisasi produksi sambil menciptakan lapangan kerja. 

Skema kolaborasi melibatkan PT Putra Arga Binangun, PT SCC Chemical Engineering Indonesia, dan Unilever, memastikan pemanfaatan teknologi modern serta efektivitas produksi.

Dengan langkah ini, Danantara memperlihatkan strategi hilirisasi yang terintegrasi di berbagai sektor, mulai dari mineral, energi, pertanian, hingga pangan. Pengembangan proyek-proyek ini diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata di berbagai wilayah Indonesia, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung program ketahanan energi dan pangan nasional.

Melalui proyek-proyek strategis tersebut, Danantara menegaskan komitmen untuk memperkuat rantai nilai industri nasional. Setiap fasilitas tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, serta pengurangan ketergantungan impor. I

ntegrasi teknologi, efisiensi operasional, dan prinsip keberlanjutan menjadi fondasi utama yang mendorong hilirisasi sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index