Serangan Jantung dan Stroke

3 Makanan Susu Turunkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke

3  Makanan Susu Turunkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke
3 Makanan Susu Turunkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke

JAKARTA - Perbincangan mengenai makanan yang ramah bagi kesehatan jantung terus berkembang seiring hadirnya berbagai penelitian baru. 

Selama ini, produk susu kerap dipandang dengan hati-hati karena kandungan lemak jenuhnya yang dianggap berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. 

Namun, sebuah studi berskala besar terbaru dari China justru menghadirkan sudut pandang berbeda mengenai peran makanan berbasis susu terhadap perlindungan jantung dan pembuluh darah.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition tersebut menyoroti bagaimana perubahan pola makan masyarakat, khususnya peningkatan konsumsi produk susu dari tingkat yang sebelumnya sangat rendah, dapat berkorelasi dengan penurunan risiko serangan jantung dan stroke. 

Temuan ini menjadi menarik karena populasi yang diteliti memiliki kebiasaan diet yang berbeda dibandingkan negara-negara Barat yang sejak lama mengonsumsi susu dalam jumlah tinggi.

Para ilmuwan menganalisis hubungan antara kebiasaan makan dan kejadian penyakit kardiovaskular dengan pendekatan jangka panjang. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi produk susu dalam jumlah moderat ke dalam pola makan harian berhubungan dengan penurunan signifikan risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung. 

Perspektif baru ini membuka ruang diskusi bahwa tidak semua lemak jenuh memberikan dampak seragam terhadap kesehatan, terutama ketika dikonsumsi dalam konteks diet yang seimbang.

Gambaran Besar Penelitian pada Populasi China

Untuk memahami hubungan antara produk susu dan kesehatan jantung, peneliti memanfaatkan data dari China Kadoorie Biobank, sebuah studi prospektif berskala sangat besar. 

Lebih dari 460.000 orang dewasa berusia 30 hingga 79 tahun yang tidak memiliki riwayat penyakit serius pada awal penelitian diikutsertakan dalam analisis.

Peserta direkrut dari sepuluh wilayah berbeda di China antara tahun 2004 hingga 2008. Melalui kuesioner terperinci, peneliti mengumpulkan informasi mengenai gaya hidup, riwayat kesehatan, serta frekuensi konsumsi berbagai kelompok makanan, termasuk produk susu. 

Pada tahap awal, sekitar 70 persen peserta melaporkan jarang atau bahkan tidak pernah mengonsumsi susu, sementara kurang dari 11 persen mengonsumsinya setidaknya empat kali per minggu.

Selama masa tindak lanjut rata-rata hampir dua belas tahun, para peneliti melacak kejadian penyakit kardiometabolik dengan menghubungkan data peserta ke sistem asuransi kesehatan nasional dan registri penyakit. 

Pendekatan longitudinal ini memungkinkan evaluasi hubungan antara kebiasaan diet awal dan kondisi kesehatan di masa depan secara lebih komprehensif.

Jenis Produk Susu yang Disorot sebagai Pelindung Jantung

Studi tersebut menyoroti tiga makanan berbasis susu yang menunjukkan potensi manfaat bagi kesehatan kardiovaskular bila dikonsumsi dalam jumlah wajar.

1. Susu segar dikaitkan dengan kemampuan menjaga elastisitas pembuluh darah ketika dikonsumsi secara rutin dalam porsi moderat. Elastisitas ini penting untuk membantu aliran darah tetap lancar dan menurunkan tekanan pada sistem kardiovaskular.

2. Yogurt mengandung probiotik serta berbagai nutrisi yang berperan dalam mengontrol tekanan darah dan meredakan peradangan. Kombinasi efek tersebut menjadikannya kandidat makanan pelindung jantung yang cukup menjanjikan.

3. Keju, meskipun sering dihindari karena kandungan lemaknya, dalam porsi yang tepat justru dikaitkan dengan profil lipid yang lebih sehat dibandingkan beberapa sumber lemak lain. Temuan ini menegaskan pentingnya melihat kualitas dan jumlah konsumsi, bukan sekadar jenis makanannya.

Hasil Utama yang Ditemukan Peneliti

Setelah menyesuaikan berbagai faktor seperti usia, kebiasaan merokok, pendapatan, aktivitas fisik, serta indeks massa tubuh, penelitian mengungkap sejumlah hubungan penting antara konsumsi produk susu dan risiko penyakit serius.

Asupan susu yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko infark miokard akut lebih rendah sekitar dua belas persen, risiko perdarahan intraserebral lebih rendah sekitar tiga puluh satu persen, serta penurunan risiko kematian kardiovaskular sekitar delapan belas persen. Temuan ini menunjukkan adanya potensi efek perlindungan terhadap beberapa kondisi paling fatal dalam penyakit jantung dan stroke.

Namun, tidak semua hasil menunjukkan arah yang sama. Konsumsi setidaknya empat porsi produk susu per minggu dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung iskemik sekitar sebelas persen dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah mengonsumsi produk susu. 

Selain itu, hubungan antara produk susu dan diabetes menghilang setelah penyesuaian terhadap indeks massa tubuh, menandakan bahwa pengaruh berat badan mungkin memainkan peran penting.

Keterbatasan dan Makna Temuan bagi Kehidupan Nyata

Seperti penelitian observasional lainnya, studi ini memiliki beberapa keterbatasan. Data pola makan diperoleh melalui laporan mandiri menggunakan kuesioner frekuensi, yang berpotensi kurang akurat dibandingkan pencatatan makanan harian. 

Penelitian juga tidak dapat membedakan secara rinci efek masing-masing jenis produk susu, serta hanya melibatkan populasi China sehingga generalisasinya ke populasi lain perlu dilakukan dengan hati-hati.

Selain itu, meskipun banyak faktor telah disesuaikan, hubungan yang ditemukan tetap bersifat asosiasi dan belum dapat membuktikan sebab-akibat secara pasti. 

Meski demikian, hasil penelitian memberikan gambaran bahwa peningkatan konsumsi produk susu dalam jumlah moderat terutama pada populasi dengan asupan awal yang rendah dapat berkontribusi pada penurunan beberapa risiko kardiovaskular penting.

Dalam praktik sehari-hari, temuan ini memperkuat pandangan bahwa keseimbangan pola makan lebih menentukan daripada menghindari satu kelompok makanan secara mutlak. Produk susu, bila dikonsumsi secara wajar sebagai bagian dari diet seimbang dan gaya hidup sehat, berpotensi mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index