JAKARTA - Upaya memperkuat kualitas aparatur sipil negara terus menjadi perhatian penting di lingkungan Kementerian Dalam Negeri.
Peningkatan kapasitas tidak lagi sekadar dipahami sebagai kegiatan pelatihan rutin, melainkan sebagai proses berkelanjutan yang membentuk budaya belajar dalam organisasi.
Dalam kerangka tersebut, Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri menempatkan konsep learning organization sebagai fondasi utama untuk memastikan setiap unsur organisasi mampu beradaptasi terhadap perubahan, meningkatkan kinerja, serta menghasilkan kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan dinamika pemerintahan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Fondasi Organisasi Pembelajar bagi ASN
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan pentingnya membangun learning organization sebagai dasar penguatan kinerja sekaligus daya adaptasi institusi.
“Konsep learning organization menjadi sangat relevan bagi BSKDN sebagai organisasi kebijakan yang dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperbaiki kualitas kinerjanya. Fifth discipline dari Peter Senge bisa kita pelajari guna menjadikan organisasi untuk terus bertumbuh," kata Yusharto.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah kegiatan peningkatan kapasitas ASN bertema pembangunan organisasi pembelajar melalui kerja tim kolaboratif dan kepemimpinan yang bersifat transformatif di lingkungan BSKDN.
Lima Disiplin Menuju Organisasi Adaptif
Yusharto menjelaskan bahwa konsep learning organization tidak terlepas dari pemikiran Peter Senge dalam buku The Fifth Discipline yang menekankan lima disiplin utama agar organisasi mampu tumbuh serta beradaptasi menghadapi perubahan. Disiplin pertama adalah personal mastery, yakni penguasaan penuh atas bidang tugas masing-masing ASN.
"Di setiap posisi ini, kita harus mastery, menguasai bidang tugas dan ini menjadi salah satu prasyarat untuk kita bisa melakukan learning organization," ujarnya.
Baik ASN struktural maupun fungsional dituntut memahami peran secara profesional sebagai dasar terbentuknya organisasi pembelajar yang efektif dan berkelanjutan dalam menjalankan fungsi pemerintahan.
Disiplin kedua berupa mental model menekankan keselarasan cara berpikir individu dengan visi serta misi organisasi. Penyatuan tujuan pribadi dan tujuan kelembagaan dipandang penting agar seluruh unsur memiliki komitmen yang sama dalam mencapai kinerja terbaik.
Selanjutnya, shared vision menjadi disiplin ketiga yang dinilai krusial karena kesamaan arah antara pimpinan dan pelaksana hanya dapat terbangun melalui komunikasi serta koordinasi yang konsisten.
Tanpa keselarasan visi, pelaksanaan kebijakan berpotensi berjalan tidak searah dan menghambat pencapaian target organisasi secara menyeluruh dalam jangka panjang.
Kolaborasi Tim dan Cara Pandang Menyeluruh
Disiplin keempat, yaitu team learning, menempatkan kerja tim sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran organisasi. ASN didorong untuk saling berbagi pengetahuan, belajar bersama, serta mencapai tujuan secara kolektif.
Sementara itu, disiplin kelima berupa system thinking menuntut aparatur berpikir komprehensif dan tidak terjebak pada satu sudut pandang tertentu. Pendekatan ini memungkinkan integrasi berbagai perspektif sebagai dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat.
“Dengan demikian lewat kegiatan ini saya berharap pemikiran awal dari fifth discipline yang melahirkan learning organization diikuti dengan pemikiran-pemikiran yang lain yang menunjang, fifth discipline ini akan terus kita kembangkan, pada organisasi kita," tambahnya.
Kualitas Manusia sebagai Penentu Kinerja
Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN Lembaga Administrasi Negara Tri Widodo W menilai konsep organisasi pembelajar sebenarnya telah lama dikenal, namun penerapannya masih belum optimal di banyak instansi.
“Modal kapital itu bukan lagi segalanya. Yang menjadi penentu utama adalah skill, capabilities, dan knowledge of people,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa tingginya kinerja organisasi tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pembelajaran berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan organisasi sektor publik dalam menghadapi tantangan perubahan yang semakin kompleks.
Melalui kegiatan penguatan kapasitas ini, BSKDN berharap kelima disiplin learning organization dapat terus dikembangkan sekaligus diinternalisasikan dalam budaya kerja ASN. Upaya tersebut diarahkan untuk menciptakan organisasi yang adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada peningkatan kinerja berkelanjutan.
Dengan menempatkan proses belajar sebagai bagian dari sistem kerja sehari-hari, institusi diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang lebih inovatif, responsif, dan berdampak nyata bagi tata kelola pemerintahan maupun pelayanan publik di masa mendatang secara konsisten.