Langkah Bank Indonesia Perkuat Pasar Valas Demi Menjaga Stabilitas Rupiah Nasional

Senin, 30 Maret 2026 | 09:26:14 WIB
Langkah Bank Indonesia Perkuat Pasar Valas Demi Menjaga Stabilitas Rupiah Nasional

JAKARTA - Upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional terus diperkuat melalui berbagai kebijakan strategis yang berorientasi pada pasar. 

Salah satu langkah terbaru yang diambil otoritas moneter adalah menghadirkan instrumen baru guna memperdalam pasar keuangan domestik. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas transmisi moneter sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi.

Bank Indonesia (BI) pada hari Senin, 30 Maret 2026, mengimplementasikan instrumen baru dalam operasi moneter berupa transaksi repo dalam valuta asing (valas).

Instrumen ini menggunakan underlying Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI). Kehadiran kebijakan ini menjadi bagian dari strategi besar dalam memperkuat stabilitas pasar keuangan.

Instrumen Baru Operasi Moneter BI

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas, Erwin Gunawan Hutapea menuturkan kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar. 

Pendekatan pro-market tersebut bertujuan meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter di dalam sistem keuangan. Selain itu, langkah ini juga diarahkan untuk mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

“Dalam pelaksanaannya, transaksi repo valas ini dapat diikuti oleh dealer utama (primary dealer) PUVA,” ujar dia. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pelaku utama pasar memiliki peran penting dalam implementasi kebijakan ini. Keterlibatan mereka diharapkan mampu mendorong likuiditas dan aktivitas transaksi yang lebih optimal.

Manfaat Instrumen bagi Likuiditas Perbankan

Erwin menuturkan kehadiran instrumen ini memberikan alternatif tambahan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas. Fokus utama dari kebijakan ini adalah pengelolaan likuiditas dalam valuta asing yang semakin penting di tengah dinamika global. Dengan demikian, bank memiliki fleksibilitas lebih dalam menjaga keseimbangan keuangan mereka.

“Melalui penguatan tersebut, aktivitas pasar sekunder SVBI dan SUVBI diharapkan akan semakin meningkat, sehingga turut mendukung pendalaman pasar keuangan serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika global yang masih berlanjut,” ujar dia. 

Pernyataan ini menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada perbankan, tetapi juga pada stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan sinergi antara instrumen moneter dan tujuan stabilitas nilai tukar.

Strategi BI Menjaga Stabilitas Rupiah

Sebelumnya, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini menjadi respons terhadap meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi pasar global. Kehadiran bank sentral di pasar menjadi bentuk komitmen dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah," kata Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. 

Pernyataan tersebut menegaskan keseriusan otoritas moneter dalam menghadapi tekanan eksternal. Upaya ini dilakukan untuk memastikan rupiah tetap berada dalam jalur yang stabil.

Destry menegaskan otoritas moneter berkomitmen melakukan intervensi secara tegas dan konsisten. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pergerakan rupiah tetap stabil dan selaras dengan fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini menjadi bagian penting dari kebijakan makroekonomi yang berkelanjutan.

Instrumen Intervensi dan Kondisi Fundamental Ekonomi

Adapun intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen baik di pasar offshore maupun domestik. Di pasar luar negeri, BI melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), sementara di pasar dalam negeri dilakukan melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Strategi ini menunjukkan pendekatan yang komprehensif dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Selain itu, bank sentral juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari strategi stabilisasi. Langkah ini bertujuan menjaga likuiditas serta memastikan kepercayaan investor tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Kombinasi kebijakan ini memperlihatkan kesiapan BI dalam menghadapi berbagai kemungkinan risiko.

"Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," ujarnya. Pernyataan ini memperkuat komitmen BI dalam menjaga kestabilan nilai tukar. Hal ini juga memberikan sinyal positif kepada pelaku pasar.

Secara kinerja, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan mata uang regional. Secara month-to-date (MTD), rupiah tercatat melemah 0,51 persen, namun angka ini relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dalam batas wajar.

Dari sisi fundamental, posisi cadangan devisa Indonesia tetap solid. Hingga akhir Januari 2026, cadangan devisa tercatat sebesar USD 154,6 miliar yang dinilai cukup untuk mendukung stabilitas eksternal dan pembiayaan impor. Kekuatan ini menjadi penopang utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Tak hanya itu, arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik sepanjang 2026 juga menunjukkan tren positif. Tercatat aliran dana asing mencapai Rp 25,7 triliun yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Kondisi ini menjadi indikator penting bahwa stabilitas tetap terjaga di tengah tekanan global.

"Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD 154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp 25,7 triliun," pungkasnya.

Terkini