Cara Aman Pakai Headset Agar Kesehatan Pendengaran Tetap Terjaga dengan Baik

Rabu, 25 Maret 2026 | 11:31:20 WIB
Cara Aman Pakai Headset Agar Kesehatan Pendengaran Tetap Terjaga dengan Baik

JAKARTA - Penggunaan headset kini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari masyarakat modern. 

Dari bekerja hingga menikmati hiburan, perangkat ini digunakan dalam berbagai situasi. Namun, di balik kenyamanan tersebut, terdapat risiko yang perlu diperhatikan dengan serius.

Headset sebenarnya tidak berbahaya jika digunakan secara bijak dan terkontrol. Risiko baru muncul ketika penggunaan dilakukan terlalu lama dengan volume tinggi. Kondisi ini dapat meningkatkan potensi gangguan pendengaran permanen.

Dokter spesialis THT, Muhammad Ade Rahman, menekankan pentingnya kesadaran dalam menjaga kesehatan telinga. “Menikmati audio boleh saja, tetapi kesehatan pendengaran tetap harus menjadi prioritas. Jika Anda mengalami keluhan seperti telinga berdenging atau penurunan pendengaran, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis THT. Deteksi dini dapat mencegah kerusakan yang lebih berat di kemudian hari,” terang Rahman.

Peran Headset dalam Aktivitas Sehari-hari

Penggunaan headset telah menjadi kebutuhan dalam berbagai aktivitas modern. Banyak orang memanfaatkannya untuk bekerja, belajar, bermain gim, hingga mendengarkan musik. Kemudahan ini membuat headset semakin populer di berbagai kalangan.

Namun, kebiasaan ini juga membawa konsekuensi tertentu jika tidak diatur dengan baik. Penggunaan dalam durasi panjang dapat berdampak pada kesehatan telinga. Terutama jika dilakukan tanpa jeda yang cukup.

Rahman menjelaskan bahwa paparan suara dengan intensitas tinggi sangat berisiko. “Menurut berbagai penelitian, paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran. Volume maksimal pada beberapa perangkat audio bahkan bisa mencapai lebih dari 100 desibel, terutama jika digunakan dengan headset tertutup (in-ear),” jelas Rahman.

Kerentanan Struktur Telinga Manusia

Telinga manusia memiliki struktur yang sangat sensitif terhadap suara. Bagian koklea di telinga dalam berperan penting dalam proses pendengaran. Di dalamnya terdapat sel-sel rambut halus yang berfungsi menerjemahkan getaran suara.

Sel-sel rambut tersebut mengubah getaran menjadi sinyal listrik yang dikirim ke otak. Proses ini memungkinkan manusia memahami suara dengan baik. Namun, paparan suara keras dapat merusak fungsi tersebut.

Rahman mengingatkan bahwa kerusakan ini bersifat permanen. “Sayangnya, sel rambut di telinga tidak dapat beregenerasi. Artinya, jika sudah rusak, gangguan pendengaran bisa bersifat permanen,” ungkap Rahman. Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah yang sangat penting.

Gejala dan Faktor Risiko Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran akibat headset sering kali tidak langsung terasa. Namun, ada beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai sejak dini. Gejala ini bisa muncul secara perlahan dan sering diabaikan.

Beberapa tanda yang umum terjadi antara lain telinga berdenging atau tinnitus. Selain itu, pendengaran bisa terasa menurun setelah penggunaan headset. Kesulitan mendengar di tempat ramai juga menjadi indikasi penting.

Pengguna juga mungkin merasa perlu meningkatkan volume lebih tinggi dari biasanya. Jika gejala ini muncul berulang, pemeriksaan medis sangat dianjurkan. Hal ini penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Rahman juga menyebutkan enam faktor risiko utama. Volume terlalu tinggi, durasi penggunaan panjang, serta penggunaan headset in-ear menjadi penyebab utama. Selain itu, kebiasaan mendengarkan di lingkungan bising dan kurangnya waktu istirahat juga meningkatkan risiko.

Cara Aman Menggunakan Headset

Penggunaan headset tetap dapat dilakukan dengan aman jika mengikuti aturan yang tepat. Salah satu cara yang disarankan adalah menerapkan prinsip 60/60. Artinya, volume maksimal 60 persen selama 60 menit.

Selain itu, penting untuk memberikan jeda bagi telinga. Istirahat selama 5 hingga 10 menit setiap satu jam penggunaan sangat dianjurkan. Hal ini membantu mengurangi tekanan pada sistem pendengaran.

Penggunaan headset dengan fitur noise-cancelling juga dapat menjadi solusi. Dengan fitur ini, pengguna tidak perlu meningkatkan volume terlalu tinggi. Selain itu, hindari penggunaan headset saat tidur.

Pemeriksaan pendengaran secara berkala juga sangat disarankan. Terutama bagi mereka yang sering menggunakan headset dalam aktivitas harian. Dengan langkah ini, potensi gangguan dapat dideteksi lebih awal.

Pada akhirnya, penggunaan headset membutuhkan kesadaran dan pengendalian diri. Batas maksimal penggunaan sebaiknya tidak lebih dari dua jam dengan volume di bawah 60 persen. Dengan kebiasaan yang tepat, kesehatan pendengaran dapat tetap terjaga dengan baik.

Terkini