Agar THR Lebaran Tidak Cepat Habis Gunakan Metode 50-30-20

Selasa, 10 Maret 2026 | 12:10:58 WIB
Agar THR Lebaran Tidak Cepat Habis Gunakan Metode 50-30-20

JAKARTA - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, banyak pekerja menerima Tunjangan Hari Raya (THR) yang sering dianggap sebagai tambahan penghasilan untuk memenuhi berbagai kebutuhan Lebaran. 

Mulai dari belanja kebutuhan hari raya, mudik, hingga berbagi dengan keluarga dan kerabat, dana tersebut biasanya langsung dialokasikan untuk berbagai pengeluaran yang meningkat selama periode perayaan.

Namun, tanpa pengelolaan yang matang, THR kerap habis dalam waktu singkat. Situasi ini sering membuat kondisi keuangan kembali tertekan setelah Lebaran berakhir karena pengeluaran meningkat sementara tabungan tidak bertambah.

Karena itu, perencanaan penggunaan THR menjadi penting agar dana yang diterima tidak hanya habis untuk kebutuhan jangka pendek, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk tujuan keuangan yang lebih berkelanjutan. Salah satu cara yang banyak direkomendasikan adalah menggunakan metode pengelolaan anggaran yang sederhana namun efektif.

Pendekatan ini memungkinkan seseorang membagi dana secara lebih terstruktur antara kebutuhan saat ini, keinginan pribadi, serta persiapan masa depan sehingga kondisi finansial tetap terjaga meskipun pengeluaran Lebaran meningkat.

Makna THR Sebagai Rezeki Yang Perlu Dikelola

Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama mengatakan, THR sebaiknya dipandang sebagai rezeki yang perlu dikelola dengan tujuan yang jelas.

“THR sebaiknya kita maknai sebagai rezeki yang dititipkan, sehingga perlu dikelola dengan tujuan yang jelas. Setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi prioritas: ibadah seperti zakat dan berbagi, kebutuhan Lebaran, kebutuhan masa depan melalui tabungan atau investasi, serta proteksi keluarga,” ujar Vivin.

Menurut dia, perencanaan keuangan tidak hanya berkaitan dengan mengumpulkan uang, tetapi juga melindungi aset yang telah dimiliki.

“Perencanaan keuangan bukan hanya soal mengumpulkan uang, tetapi juga melindungi apa yang sudah kita kumpulkan. Jika pencari nafkah tiba-tiba tidak dapat bekerja, tabungan bisa cepat terkuras. Karena itu, mengalokasikan sebagian THR untuk perlindungan keluarga adalah bentuk tanggung jawab dan ikhtiar kita untuk menjaga dari risiko,” kata Vivin.

Ia menambahkan, Lebaran tidak hanya tentang perayaan, tetapi juga memastikan kondisi keuangan keluarga tetap aman setelah momen tersebut berlalu.

Strategi Mengatur THR Dengan Metode Sederhana

Vivin menjelaskan, salah satu strategi sederhana yang dapat diterapkan dalam mengelola THR adalah menggunakan formula 50–30–20.

Sebagai informasi, metode 50-30-20 adalah salah satu pendekatan sederhana dalam mengatur keuangan alias anggaran rumah tangga.

Aturan ini dipopulerkan oleh ekonom dan Senator Amerika Serikat (AS), Elizabeth Warren, bersama putrinya Amelia Warren Tyagi melalui buku All Your Worth: The Ultimate Lifetime Money Plan.

Dalam metode ini, pendapatan setelah pajak dibagi ke dalam tiga pos utama pengeluaran agar keuangan lebih seimbang. Dikutip dari Forbes, secara umum, metode 50-30-20 membagi pendapatan menjadi tiga kategori.

Sebanyak 50 persen dialokasikan untuk kebutuhan pokok (needs) seperti biaya tempat tinggal, makanan, transportasi, utilitas, dan pembayaran minimum utang.

Kemudian, sebanyak 30 persen digunakan untuk keinginan (wants), misalnya hiburan, makan di luar, atau liburan.  Sementara 20 persen sisanya ditujukan untuk tabungan dan investasi, termasuk dana darurat maupun pelunasan utang lebih cepat. Aturan ini dimaksudkan sebagai pedoman praktis yang mudah diikuti oleh masyarakat yang baru mulai menyusun anggaran.

Investopedia menyebut metode tersebut sebagai cara intuitif untuk membagi pendapatan sehingga seseorang dapat membuat anggaran yang masuk akal yang dapat Anda patuhi dari waktu ke waktu untuk mencapai tujuan keuangan Anda.

Dengan membagi pengeluaran ke dalam tiga kelompok besar, metode ini membantu individu melihat dengan lebih jelas hubungan antara pendapatan, pengeluaran, dan tabungan.

Manfaat Metode Anggaran Dalam Mengelola Keuangan

Sejumlah pakar keuangan juga menilai pendekatan tersebut efektif sebagai titik awal dalam membangun kebiasaan mengelola uang, karena kerangkanya sederhana dan tidak memerlukan perencanaan yang rumit.

Dalam mengelola THR dengan metode ini, sekitar 50 persen dana dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran, termasuk zakat dan berbagai kebutuhan perayaan.

Sementara itu, 30 persen dapat disisihkan untuk tabungan atau investasi, dan 20 persen dialokasikan untuk perlindungan finansial seperti dana darurat maupun asuransi.

Menurut Vivin, komposisi tersebut bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu atau keluarga.

“Pengaturan ini bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, namun prinsip utamanya tetap sama, yakni menikmati momen saat ini tanpa melupakan pentingnya mengamankan masa depan,” ujar dia.

Selain itu, momentum Lebaran juga dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kondisi finansial.

Setelah beberapa bulan menjalani rutinitas pengeluaran, dana THR bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat tabungan atau dana darurat keluarga.

Pendekatan ini membantu seseorang memahami pola pengeluaran sekaligus menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan tujuan keuangan jangka panjang.

Peluang Investasi Dan Literasi Keuangan Syariah

Bagi masyarakat yang mulai menerapkan perencanaan keuangan jangka panjang, sebagian dana THR juga dapat dialokasikan untuk investasi. Menurut Vivin, langkah ini tidak harus dilakukan dalam jumlah besar, tetapi dapat dimulai secara bertahap dan konsisten.

Di sisi lain, tradisi berbagi pada momen Lebaran juga menjadi bagian penting dari pengelolaan THR. Menyisihkan sebagian dana untuk zakat maupun sedekah dinilai dapat memberi makna lebih dalam pada perayaan hari raya.

Untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat, Prudential Syariah menggelar Festival 1.000 Berkah di Masjid Agung Al-Azhar selama bulan Ramadhan, mulai 19 Februari hingga 14 Maret 2026.

Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai program, antara lain edukasi literasi keuangan syariah, edukasi kesehatan, program donasi, konsultasi peluang bisnis, serta pendampingan perencanaan finansial berbasis prinsip syariah.

Adapun Prudential Syariah merupakan perusahaan asuransi jiwa berbasis syariah yang mulai beroperasi sebagai entitas terpisah sejak 2022 setelah sebelumnya merupakan Unit Usaha Syariah dari PT Prudential Life Assurance.

Perusahaan ini menawarkan berbagai solusi perlindungan jiwa, kesehatan, dan finansial berbasis prinsip syariah serta berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Terkini