Pembangunan PLTSa Jakarta Dimulai Pertengahan 2026, Gubernur Ungkap Rencana

Rabu, 11 Februari 2026 | 12:00:48 WIB
Pembangunan PLTSa Jakarta Dimulai Pertengahan 2026, Gubernur Ungkap Rencana

JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui Gubernur Pramono Anung, mengungkapkan bahwa pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Intermediate Treatment Facility (ITF) di Ibu Kota akan dimulai pada pertengahan tahun 2026. 

Pembangunan fasilitas ini bertujuan tidak hanya untuk menangani masalah sampah yang terus meningkat, tetapi juga sebagai bagian dari upaya Jakarta dalam transisi energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Rencana Pembangunan PLTSa di Jakarta

Pramono mengungkapkan bahwa Jakarta sudah mempersiapkan lokasi-lokasi untuk membangun beberapa PLTSa yang tersebar di berbagai titik strategis di ibu kota. 

Pembangunan ini mencakup ITF yang berlokasi di Sunter, Jakarta Utara, dan beberapa lokasi lainnya di Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat. Rencana ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah di Jakarta yang semakin membutuhkan solusi efektif.

"Kami berharap untuk dapat memulai pembangunan beberapa pembangkit listrik tenaga sampah di pertengahan tahun ini. Jakarta sudah memiliki lahan yang diperlukan, seperti yang ada di Sunter, Jakarta Utara. Kami juga akan melanjutkan rencana ini di lokasi lainnya," ujar Pramono.

Pembangunan PLTSa ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi masalah sampah yang semakin mengkhawatirkan, sekaligus mendukung program pemerintah dalam mengurangi emisi karbon yang berdampak negatif terhadap lingkungan.

PLTSa sebagai Solusi Pengelolaan Sampah dan Energi

Salah satu tujuan utama dari pembangunan PLTSa adalah mengurangi timbunan sampah di Jakarta yang mencapai jutaan ton setiap tahun. Sampah yang tidak terkelola dengan baik menambah beban pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. 

Gubernur Pramono menegaskan bahwa kehadiran PLTSa tidak hanya akan mengurangi beban sampah di Jakarta, tetapi juga memiliki peran penting dalam mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh pembangkit listrik berbasis batu bara.

"PLTSa di Jakarta diharapkan mampu menghasilkan energi yang dapat menggantikan pembangkit listrik berbasis batu bara yang selama ini digunakan untuk kebutuhan industri sekitar Jakarta. Ini adalah langkah besar untuk mengurangi emisi dan menuju transisi energi yang lebih bersih," tambahnya.

Dengan memanfaatkan sampah sebagai bahan baku pembangkit listrik, Jakarta bisa mendapatkan manfaat ganda, yakni mengurangi jumlah sampah yang menumpuk di tempat pembuangan dan menghasilkan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

Menanggulangi Ancaman Sampah di Bantargebang

Selain rencana pembangunan PLTSa, Pramono juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kapasitas TPST Bantargebang yang semakin penuh. Dalam beberapa tahun ke depan, Bantargebang, yang selama ini menjadi tempat utama pengolahan sampah di Jakarta, diprediksi akan mengalami kesulitan dalam menampung sampah yang semakin banyak.

"Bantargebang sudah menampung sampah Jakarta selama bertahun-tahun. Namun, jika tidak ada perubahan signifikan dalam sistem pengolahan, tempat ini tidak akan mampu lagi menampung sampah Jakarta. Kami mengantisipasi bahwa dalam beberapa tahun mendatang, TPST ini akan penuh dengan akumulasi sampah yang mencapai puluhan juta ton," kata Pramono.

Oleh karena itu, PLTSa di Jakarta menjadi solusi yang sangat penting untuk mengatasi ancaman kelebihan kapasitas di Bantargebang. Dengan adanya PLTSa, pengolahan sampah dapat dilakukan secara lebih efisien, dan sebagian sampah yang tidak dapat didaur ulang dapat diubah menjadi energi.

Langkah Progresif Mengurangi Sampah di Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan untuk membangun setidaknya empat PLTSa guna menyelesaikan masalah sampah di ibu kota. Dalam pertemuan sebelumnya dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Pramono menegaskan bahwa ada rencana untuk membangun dua PLTSa tambahan di Jakarta sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat pengurangan timbunan sampah di Bantargebang.

"Sesuai pembicaraan dengan Danantara, akan ada dua PLTSa lagi yang akan dibangun di Jakarta. Kami berharap pembangunan ini dapat membantu mengurangi timbunan sampah di Bantargebang secara bertahap," ujarnya.

Dengan sekitar 55 juta ton sampah yang saat ini terkumpul di Bantargebang, pengurangan yang signifikan diperkirakan dapat tercapai melalui proyek PLTSa yang sedang direncanakan ini. 

Pramono berharap, melalui teknologi ini, Jakarta bisa mengurangi tumpukan sampah yang menggunung dan sekaligus memberikan dampak positif terhadap kualitas udara dan lingkungan.

Keberlanjutan Proyek PLTSa untuk Jakarta yang Lebih Bersih

Pembangunan PLTSa ini akan menjadi langkah besar menuju Jakarta yang lebih bersih dan lebih ramah lingkungan. Selain itu, pemanfaatan sampah sebagai bahan baku energi akan menjadi bagian dari komitmen Jakarta untuk mendukung transisi energi di Indonesia. 

Dengan energi yang bersumber dari sampah, Jakarta dapat mengurangi ketergantungannya pada energi fosil yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Proyek ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dijadikan sumber daya yang bermanfaat jika dikelola dengan baik. Melalui keberhasilan PLTSa ini, Jakarta berharap dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengelola sampah dan energi secara lebih berkelanjutan.

Pembangunan fasilitas ini juga akan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga sektor swasta. Dengan kolaborasi yang kuat, Jakarta diharapkan dapat mengatasi masalah sampah secara lebih efektif dan berkontribusi pada pencapaian tujuan pengurangan emisi global.

Terkini