Pemerintah Masih Bahas Insentif Mobil Listrik untuk Jaga Industri Otomotif Nasional

Jumat, 06 Februari 2026 | 09:39:51 WIB
Pemerintah Masih Bahas Insentif Mobil Listrik untuk Jaga Industri Otomotif Nasional

JAKARTA - Pemerintah masih membahas rencana insentif mobil listrik dan "hybrid" sebagai bagian dari upaya menjaga momentum industri otomotif nasional. 

Kebijakan tersebut diharapkan mampu menopang kinerja sektor otomotif yang menghadapi tantangan penurunan penjualan dalam beberapa tahun terakhir. Fokus pembahasan diarahkan pada keberlanjutan industri sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Kementerian Perindustrian menilai insentif menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong permintaan kendaraan ramah lingkungan. Upaya ini dilakukan seiring dengan target pemerintah dalam memperkuat struktur industri otomotif nasional. Pembahasan kebijakan masih berlangsung dan belum memasuki tahap keputusan final.

Langkah tersebut menunjukkan kehati-hatian pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang berdampak luas. Setiap skema insentif dipertimbangkan agar tepat sasaran dan berkelanjutan. Pemerintah ingin memastikan kebijakan yang diambil tidak hanya bersifat jangka pendek.

Pembahasan Insentif Masih Berlangsung di Tingkat Pemerintah

Kementerian Perindustrian menyampaikan bahwa pembahasan insentif mobil listrik dan kendaraan hybrid masih berjalan. Proses tersebut melibatkan koordinasi lintas kementerian yang berwenang di bidang fiskal dan industri. Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi yang dapat diumumkan ke publik.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin, Setia Diarta, menjelaskan bahwa usulan telah disampaikan. Menurutnya, komunikasi dengan Kementerian Keuangan telah dilakukan untuk mendukung penjualan industri otomotif. “Sudah bersurat kepada Kementerian Keuangan dalam rangka supaya bisa membantu industri otomotif ini penjualannya juga membaik, (insentif) masih dalam pembahasan,” kata dia.

Ia menegaskan bahwa kondisi serupa juga berlaku untuk kendaraan hybrid. Insentif pada segmen tersebut belum diputuskan dan masih dibicarakan. Pemerintah memilih untuk tidak terburu-buru dalam menetapkan kebijakan.

Kebijakan LCEV Tetap Berjalan untuk Segmen LCGC

Sementara itu, untuk segmen Low Cost Green Car, pemerintah masih menjalankan kebijakan yang telah ada. Program Low Carbon Emission Vehicle tetap memberikan insentif berupa tarif PPnBM sebesar 3 persen. Skema ini dinilai masih relevan untuk menjaga keterjangkauan kendaraan ramah lingkungan.

Kebijakan LCEV disebut akan berlaku dalam jangka panjang hingga 2031. Pemerintah menilai kesinambungan kebijakan penting untuk memberikan kepastian bagi pelaku industri. Stabilitas regulasi diharapkan dapat mendorong investasi jangka panjang.

Setia Diarta menyampaikan agar publik menunggu perkembangan selanjutnya. Ia berharap keputusan mengenai insentif baru dapat segera diumumkan. “Soal insentif ditunggu saja. Mudah-mudahan segera ada jawabannya,” kata Setia.

Target Penjualan Nasional Tetap Dijaga Pemerintah

Di tengah pembahasan insentif, pemerintah tetap optimistis terhadap target penjualan mobil nasional. Target tersebut ditetapkan sebesar 850 ribu unit untuk tahun berjalan. Pemerintah menilai angka ini masih realistis dengan dukungan kebijakan yang tepat.

Optimisme tersebut didasari pada potensi pemulihan pasar otomotif. Pemerintah melihat adanya peluang peningkatan permintaan jika insentif dapat diterapkan. Dukungan fiskal diyakini mampu memperbaiki sentimen pasar.

Kementerian Perindustrian sebelumnya juga mengusulkan insentif fiskal untuk tahun mendatang. Usulan ini disusun sebagai langkah antisipatif menghadapi dinamika pasar. Pemerintah ingin menjaga industri otomotif tetap kompetitif.

Skema Insentif dan Tantangan Penjualan Industri

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa skema insentif dirancang secara komprehensif. Pertimbangan mencakup segmen kendaraan, jenis teknologi, serta tingkat komponen dalam negeri. Jenis baterai yang digunakan juga menjadi salah satu faktor penentu.

Ia mengemukakan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai LFP berpotensi memperoleh insentif lebih kecil. Hal ini berbeda dengan mobil listrik yang menggunakan baterai berbahan dasar nikel. Kebijakan tersebut disesuaikan dengan arah pengembangan industri nasional.

Di sisi lain, tantangan pasar masih terlihat dari data penjualan kendaraan. Penjualan dari pabrik ke diler mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini juga tercermin pada penjualan dari diler ke konsumen yang masih melemah.

Terkini