Ekuitas Krakatau Steel Melonjak 2025 Didorong Suntikan Danantara

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:47:50 WIB
Ekuitas Krakatau Steel Melonjak 2025 Didorong Suntikan Danantara

JAKARTA - Upaya penyehatan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. mulai menunjukkan hasil yang signifikan sepanjang 2025. 

Emiten baja pelat merah tersebut mencatat penguatan fundamental keuangan, tercermin dari lonjakan ekuitas yang hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. 

Perbaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi internal yang dijalankan perseroan, ditopang dukungan permodalan dari Danantara Indonesia, mulai memberikan dampak nyata terhadap kinerja perusahaan.

Krakatau Steel menempatkan tahun 2025 sebagai fase pemulihan sekaligus penataan ulang strategi bisnis. Fokus utama diarahkan pada efisiensi operasional, penguatan struktur permodalan, serta optimalisasi kapasitas produksi di tengah tekanan industri baja global yang masih tinggi. 

Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keberlanjutan usaha dan meningkatkan daya saing perseroan di pasar domestik.

Ekuitas Menguat Didukung Transformasi Internal

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. mencatat pertumbuhan ekuitas sebesar 99,4% menjadi US$868 juta pada 2025. Lonjakan ini didorong oleh hasil transformasi internal yang konsisten serta suntikan modal dari Danantara Indonesia. 

Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyampaikan bahwa penguatan ekuitas tersebut menjadi refleksi dari berbagai program efisiensi yang dijalankan secara masif oleh perseroan.

“Dari sisi ekuitas kami tumbuh 99,4% dibanding 2024 dengan nilai kurang lebih US$868 juta. Tentu upaya-upaya yang sudah kita lakukan dengan melakukan program efisiensi yang sangat masif,” ujarnya.

Selain perbaikan ekuitas, kinerja pendapatan Krakatau Steel juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, pendapatan perseroan tumbuh 0,4% secara tahunan menjadi US$955 juta. Capaian ini sejalan dengan peningkatan volume penjualan baja yang melonjak 29% secara tahunan menjadi 945.000 ton.

Manajemen menilai pertumbuhan volume penjualan tersebut mencerminkan mulai pulihnya permintaan baja domestik, meskipun industri secara keseluruhan masih menghadapi tekanan dari produk impor.

Peran Danantara Dalam Penguatan Modal

Lonjakan ekuitas Krakatau Steel tidak terlepas dari dukungan pendanaan yang diterima dari PT Danantara Asset Management (Persero) atau DAM, selaku holding operasional badan pengelola investasi Danantara Indonesia. Dukungan ini menjadi elemen penting dalam memperbaiki struktur keuangan perseroan sekaligus menopang aktivitas operasional.

Berdasarkan keterbukaan informasi, Krakatau Steel telah menandatangani perjanjian pinjaman pemegang saham dengan nilai maksimal Rp4,93 triliun atau setara US$295 juta pada akhir 2025. Dana tersebut dialokasikan secara strategis untuk mendukung kebutuhan utama perusahaan.

Sebesar Rp4,18 triliun digunakan sebagai modal kerja operasional, khususnya untuk pembelian bahan baku pabrik Hot Strip Mill (HSM) dan Cold Rolled Coil (CRM). Ketersediaan bahan baku ini dinilai krusial untuk menjaga kesinambungan produksi serta meningkatkan tingkat utilisasi fasilitas pabrik.

Sementara itu, dana sebesar Rp752,8 miliar dialokasikan untuk mendukung program efisiensi karyawan melalui skema golden handshake serta penyehatan dana pensiun perseroan. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan struktur biaya yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Tantangan Industri Baja Masih Membayangi

Meski menunjukkan tren pemulihan yang kuat, Krakatau Steel mengakui bahwa tantangan industri baja nasional masih cukup berat. Akbar Djohan menyoroti derasnya arus produk baja impor murah, terutama dari China, yang menekan kinerja industri dalam negeri.

Saat ini, tingkat utilisasi kapasitas industri baja nasional masih berada di bawah 60%. Kondisi tersebut mencerminkan belum optimalnya penyerapan produksi baja lokal di pasar domestik. Di sisi lain, potensi impor baja untuk memenuhi kebutuhan nasional diperkirakan mencapai hampir Rp80 triliun per tahun.

“Ini tidak lain banyak faktor diisi oleh produk-produk baja murah dari China. Setelah kami hitung, lebih potensi daripada impor Indonesia dari kebutuhan baja kurang lebih hampir mencapai Rp80 triliun per tahun,” tutur Akbar.

Tekanan dari produk impor ini menjadi tantangan struktural yang harus dihadapi industri baja nasional, termasuk Krakatau Steel. Perseroan menilai perlu adanya sinergi kebijakan antara pelaku industri dan pemerintah untuk menciptakan iklim usaha yang lebih adil bagi produsen dalam negeri.

Strategi Menuju Layanan Baja Terintegrasi

Ke depan, Krakatau Steel membidik peran strategis sebagai penyedia layanan satu pintu atau one stop service dalam pemenuhan kebutuhan baja untuk Proyek Strategis Nasional.

 Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi perseroan terhadap pembangunan nasional sekaligus memperluas pangsa pasar domestik.

Dengan dukungan permodalan yang lebih kuat dan struktur keuangan yang semakin sehat, Krakatau Steel optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai tulang punggung industri baja nasional. 

Perseroan juga terus mengkaji pengembangan bisnis yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir, guna meningkatkan nilai tambah produk baja dalam negeri.

Manajemen menegaskan bahwa transformasi yang dilakukan tidak hanya bertujuan memperbaiki kinerja jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan berkelanjutan. 

Dengan langkah tersebut, Krakatau Steel berharap dapat berkontribusi lebih besar dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor baja.

Terkini

Tips Memasak Sambal Hijau Agar Warnanya Tetap Segar

Kamis, 05 Februari 2026 | 11:26:27 WIB

5 Resep Buncis Bawang Putih Sederhana dan Lezat Untuk Anda

Kamis, 05 Februari 2026 | 11:26:26 WIB

Perbedaan Tepung Terigu Protein Rendah, Sedang dan Tinggi

Kamis, 05 Februari 2026 | 11:26:21 WIB

Jumlah Wisatawan Indonesia ke Korea Selatan Pecah Rekor

Kamis, 05 Februari 2026 | 11:26:16 WIB

Telur Rebus atau Omelet, Mana yang Lebih Sehat?

Kamis, 05 Februari 2026 | 11:26:07 WIB