MIND ID Tegaskan Nikel Tetap Menjadi Komoditas Prospek Tinggi

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:47:42 WIB
MIND ID Tegaskan Nikel Tetap Menjadi Komoditas Prospek Tinggi

JAKARTA - Permintaan nikel global terus menunjukkan tren positif seiring berkembangnya industri kendaraan listrik dan baterai canggih. 

Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, menempati posisi strategis dalam memenuhi kebutuhan material utama bagi baterai kendaraan listrik, terutama baterai berbasis nikel mangan kobalt (NMC). 

Potensi ini dinilai akan tetap tinggi meskipun teknologi baterai lain, seperti lithium iron phosphate (LFP), mulai menekan pangsa pasar NMC.

Indonesia Battery Corporation (IBC), anak usaha Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID), melihat nikel tetap memiliki prospek cerah. 

Pengembangan ekosistem baterai NMC oleh IBC diproyeksikan membawa manfaat signifikan bagi industri nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Prospek Tinggi Nikel Untuk Baterai Masa Depan

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menekankan bahwa permintaan baterai berbasis nikel terus meningkat seiring skala pasar yang membesar. 

“Apabila kita mengacu pada teknologi per hari ini saja, kita masih sangat optimis bahwa kita bisa memasarkan baterai ion litium berbasis katoda nikel kita,” ujarnya.

Aditya menambahkan bahwa teknologi baterai ke depan akan tetap membuka ruang besar bagi nikel. Bahkan inovasi baru, seperti sodium ion battery, yang mengganti lithium dengan natrium lebih murah, tetap memanfaatkan nikel, besi, dan mangan sebagai bahan utama. 

Selain itu, pengembangan solid state battery juga tetap mengandalkan nikel sebagai material utama.

Dengan kata lain, meskipun ada variasi teknologi baterai, kebutuhan nikel tetap bertahan karena perannya yang krusial dalam katoda dan elektrolit baterai. 

Hal ini membuat Indonesia tetap memiliki posisi strategis untuk mengekspor nikel ke pasar global sekaligus membangun industri baterai domestik yang kompetitif.

Strategi IBC Menghadapi Pasar Global

IBC tidak hanya mengandalkan permintaan nikel yang tinggi, tetapi juga menerapkan strategi agar industri baterai tetap cost competitive. 

Aditya menjelaskan, “Kalau kita sudut pandangnya sebagai Indonesia, kita punya tambangnya, tentu kita ingin harga nikelnya tinggi. Tapi dengan harga nikel yang tinggi tentu nanti produk turunan nikelnya menjadi tinggi harganya.”

Untuk itu, IBC melakukan inovasi dalam proses operasional, termasuk memotong rantai industri agar biaya produksi lebih efisien. Pendekatan ini bertujuan agar produktivitas industri nikel Indonesia tidak bergantung sepenuhnya pada volatilitas harga global, sekaligus meningkatkan daya saing produk turunan nikel di pasar internasional.

Tren Harga Nikel Dan Dampaknya

Dari sisi harga, nikel dunia menunjukkan tren yang cukup stabil di level tinggi. Selama 15 bulan terakhir, harga nikel global berada di kisaran USD 17.000 per ton, sempat menyentuh USD 18.000 per ton pada 14 Januari 2026. 

Di pasar domestik, data Kementerian ESDM mencatat harga nikel pada periode pertama Februari 2026 mencapai USD 17.774 per ton, meningkat dari USD 16.426 per ton pada periode kedua Januari 2026.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi fluktuasi, harga nikel tetap menarik bagi investor dan produsen baterai. Dengan strategi efisiensi yang diterapkan IBC, fluktuasi harga global tidak akan berdampak signifikan terhadap kelangsungan ekosistem baterai di Indonesia.

Fokus IBC Pada Ekosistem Baterai Terintegrasi

IBC merupakan anak usaha BUMN yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh MIND ID Group melalui INALUM dan ANTAM. Fokus utama IBC adalah membangun ekosistem baterai terintegrasi dan berdaya saing global, mulai dari penyediaan bahan baku nikel hingga produksi baterai siap pakai.

Pengembangan ekosistem ini mencakup inovasi teknologi, peningkatan kapasitas produksi, serta strategi efisiensi biaya. Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya mengekspor nikel mentah, tetapi juga mampu menghadirkan produk turunan bernilai tinggi seperti baterai NMC. 

Hal ini sejalan dengan tujuan nasional untuk menempatkan Indonesia sebagai pusat industri baterai global yang kompetitif dan berkelanjutan.

Dengan prospek permintaan yang terus meningkat dan strategi operasional yang matang, IBC optimis nikel Indonesia tetap menjadi komoditas strategis. 

Selain mendukung pertumbuhan industri domestik, langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia di pasar global, menjadikan nikel sebagai salah satu kunci masa depan industri kendaraan listrik dan baterai dunia.

Terkini