JAKARTA - Aksi manajemen perusahaan dalam menambah kepemilikan saham kerap dipandang sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka panjang emiten.
Langkah tersebut juga sering menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan keyakinan internal terhadap kinerja dan fundamental perusahaan.
Fenomena ini kembali terlihat pada PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), ketika jajaran pimpinan puncaknya tercatat melakukan pembelian saham.
Presiden Komisaris BCA, Jahja Setiaatmadja, tercatat menambah kepemilikan saham BBCA melalui transaksi yang dilakukan pada Senin, 2 Februari 2026.
Aksi ini menambah daftar jajaran manajemen BCA yang melakukan pembelian saham dalam beberapa waktu terakhir, di tengah dinamika pasar modal.
Aksi Pembelian Saham Oleh Presiden Komisaris
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Jahja Setiaatmadja membeli saham BBCA sebanyak 67.000 lembar. Transaksi tersebut dilakukan dengan harga Rp7.450 per saham pada 2 Februari 2025.
Dengan harga tersebut, total dana yang dikeluarkan Jahja untuk transaksi ini mencapai Rp499,15 juta. Melalui surat yang ditujukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jahja menyampaikan bahwa tujuan dari transaksi pembelian saham tersebut adalah untuk investasi.
Setelah transaksi ini rampung, total kepemilikan saham Jahja di BCA meningkat menjadi 35.000.644 unit. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 0,03% dari total saham beredar. Sebelum melakukan pembelian, Jahja tercatat menggenggam 34.933.644 saham BBCA.
Kepemilikan saham tersebut tercatat langsung atas nama Jahja Setiaatmadja dan diklasifikasikan sebagai saham biasa. Penambahan kepemilikan ini menegaskan komitmen Jahja sebagai Presiden Komisaris terhadap perusahaan yang dipimpinnya.
Kepemilikan Saham Manajemen Kian Bertambah
Selain Jahja Setiaatmadja, jajaran manajemen BCA lainnya juga tercatat melakukan aksi serupa. Pada akhir Januari 2026, Direktur BCA Lianawaty Suwono turut menambah kepemilikan saham BBCA.
Dalam keterbukaan informasi kepada BEI, Lianawaty membeli sebanyak 300.000 lembar saham BBCA pada 28 Januari 2026. Harga pembelian saham tersebut tercatat sebesar Rp7.025 per saham, sehingga total nilai transaksi mencapai Rp2,10 miliar.
Setelah transaksi tersebut, total kepemilikan saham BBCA oleh Lianawaty meningkat menjadi sekitar 3.140.417 unit. Angka ini setara dengan sekitar 0,0025% dari total saham beredar. Sebelum pembelian dilakukan, Lianawaty tercatat memiliki 2.840.417 saham atau sekitar 0,0023%.
Aksi pembelian saham oleh jajaran direksi dan komisaris ini memperlihatkan adanya kesamaan pandangan internal manajemen terhadap prospek BCA ke depan. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari keterbukaan informasi yang wajib disampaikan kepada regulator dan publik.
Sinyal Kepercayaan Di Tengah Dinamika Pasar
Aksi pembelian saham oleh manajemen umumnya dipersepsikan sebagai bentuk kepercayaan terhadap kinerja dan fundamental perusahaan. Dalam konteks BCA, langkah ini dilakukan di tengah kondisi pasar yang masih dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik.
Meski demikian, pembelian saham oleh manajemen tidak serta-merta dimaknai sebagai rekomendasi investasi bagi publik. Setiap investor tetap perlu mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi makroekonomi, kinerja keuangan perusahaan, hingga profil risiko masing-masing.
Bagi BCA, aksi ini menunjukkan konsistensi manajemen dalam menjaga keterlibatan langsung terhadap perusahaan. Dengan kepemilikan saham yang terus bertambah, jajaran pimpinan memiliki kepentingan yang selaras dengan pemegang saham lainnya dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Transparansi Dan Kepatuhan Regulasi
Seluruh transaksi pembelian saham yang dilakukan oleh Jahja Setiaatmadja dan Lianawaty Suwono telah disampaikan melalui mekanisme keterbukaan informasi sesuai ketentuan yang berlaku. Penyampaian informasi kepada BEI dan OJK menjadi bagian penting dari prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Transparansi ini memberikan kepastian bagi investor bahwa setiap aksi korporasi atau transaksi yang melibatkan manajemen puncak dilakukan secara terbuka dan dapat dipantau publik. Hal tersebut juga mendukung kepercayaan pasar terhadap emiten perbankan besar seperti BCA.
Ke depan, pasar akan terus mencermati langkah-langkah manajemen dalam mengelola perusahaan, termasuk aksi kepemilikan saham. Bagi investor, informasi tersebut menjadi salah satu referensi dalam menilai komitmen dan keyakinan internal terhadap kinerja perusahaan.
Dengan bertambahnya kepemilikan saham oleh Presiden Komisaris dan Direktur, BCA menunjukkan sinyal konsistensi manajemen dalam menjaga kepentingan jangka panjang perusahaan. Langkah ini sekaligus menegaskan posisi BCA sebagai salah satu emiten perbankan yang terus menarik perhatian pelaku pasar modal.