JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menekankan bahwa integritas dan profesionalisme merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas layanan publik.
Menurutnya, nilai-nilai ini harus diinternalisasi oleh setiap pekerja agar pekerjaan yang dilakukan menjadi bermakna. Integritas bukan sekadar aturan formal, tetapi komitmen untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Selain integritas, Menaker menekankan pentingnya kepedulian terhadap persoalan di lapangan. Hal ini diwujudkan melalui pekerjaan yang melampaui kewajiban formal dan menumbuhkan semangat kebersamaan. Dengan cara ini, layanan publik tidak hanya profesional tetapi juga adil dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Yassierli menjelaskan bahwa pekerjaan yang bermakna lahir dari cara kerja sehari-hari, bukan sekadar jabatan yang diemban.
Konsep ini disebutnya sebagai “Meaningful Work: Beyond the Duty,” di mana setiap tindakan memiliki nilai lebih dari tanggung jawab rutin. Dampak pekerjaan inilah yang menciptakan energi, komitmen, dan memperkuat organisasi dalam jangka panjang.
Makna Pekerjaan Lebih Dari Sekadar Tugas
Menaker menekankan bahwa makna pekerjaan muncul ketika kontribusi nyata dirasakan oleh masyarakat. Hal ini menimbulkan motivasi internal yang mendorong pegawai untuk terus berinovasi dan berkomitmen pada hasil terbaik. Dengan demikian, pekerjaan menjadi lebih dari sekadar formalitas, tetapi sarana untuk memberikan manfaat nyata.
Ia menambahkan bahwa melalui kontribusi yang bermakna, setiap individu dapat menemukan energi kerja yang memperkuat loyalitas terhadap organisasi.
Pegawai yang memahami dampak positif pekerjaannya akan lebih bersemangat melayani masyarakat. Komitmen ini sekaligus menjadi fondasi untuk membangun organisasi yang berkelanjutan dan efektif.
Kolaborasi juga menjadi kunci dalam mewujudkan pekerjaan yang bermakna. Menaker menegaskan bahwa keberhasilan organisasi bukan milik satu unit, tetapi hasil sinergi seluruh bagian. Semua unit diminta menghapus ego sektoral dan bekerja dengan tujuan serta sense of crisis yang sama untuk hasil maksimal.
Prinsip “Satu Tim, Satu Kapal” Dalam Organisasi
Konsep “Satu Tim, Satu Kapal” menekankan bahwa organisasi harus dipandang sebagai satu kesatuan utuh. Menaker meminta setiap pegawai bekerja secara kolaboratif, bukan kompetitif, untuk mencapai tujuan bersama. Dengan cara ini, keberhasilan tidak hanya diukur dari prestasi individu, tetapi dari hasil kolektif seluruh tim.
Ego sektoral yang menimbulkan fragmentasi dalam organisasi harus dihapuskan. Menaker mendorong budaya kerja yang mengedepankan kolaborasi, di mana semua unit memahami tujuan dan tanggung jawab masing-masing. Pendekatan ini membuat organisasi lebih tangguh dan responsif terhadap tantangan yang dihadapi.
Kolaborasi yang kuat juga meningkatkan efektivitas pelayanan publik. Dengan saling mendukung dan berbagi pengetahuan, pegawai dapat memberikan layanan yang lebih cepat dan tepat sasaran. Budaya ini memupuk rasa memiliki dan kebanggaan terhadap hasil kerja bersama.
Penempatan SDM Berdasarkan Kompetensi dan Potensi
Dalam pengelolaan sumber daya manusia, Menaker menekankan prinsip “Right Person, Right Position.” Penempatan pegawai harus didasarkan pada kompetensi, potensi, dan kinerja, sementara integritas dan moralitas menjadi syarat utama. Hal ini memastikan setiap individu berada di posisi yang tepat untuk memberikan kontribusi maksimal.
Pendekatan ini menekankan meritokrasi di atas senioritas, sehingga peluang berkembang diberikan secara adil. Potensi pegawai diuji melalui penugasan strategis, proyek penting, atau rotasi lintas fungsi. Sistem ini memunculkan talenta tersembunyi, meningkatkan keterlibatan, dan memperkuat kepercayaan terhadap promosi yang rasional dan transparan.
Metode pengelolaan berbasis meritokrasi juga memupuk budaya profesional. Pegawai terdorong untuk bekerja secara optimal karena penilaian dilakukan berdasarkan hasil dan kemampuan. Dengan demikian, organisasi dapat menumbuhkan generasi aparatur yang berkompeten dan berintegritas tinggi.
Organisasi Berbasis Manusia dan Lingkungan Kerja Inspiratif
Menaker memperkenalkan konsep “People-Centric Organization” yang menempatkan marwah dan kebanggaan pegawai sebagai fokus utama.
Lingkungan kerja dirancang aman untuk bertumbuh dan berani menyampaikan pendapat melalui metode lincah dan meritokratis. Konsep ini mendukung terciptanya tempat kerja yang nyaman sekaligus produktif bagi semua pegawai.
Spirit organisasi yang disebut “A Nice Place to Grow” mendorong inovasi, kreativitas, dan rasa bangga dalam bekerja.
Pegawai diberikan kesempatan berkembang, berkontribusi, dan merasakan hasil kerja yang berarti. Semua ini dibangun di atas fondasi nilai organisasi dan kepemimpinan yang kuat, memastikan pelayanan publik berkualitas dan berdampak nyata.
Lingkungan kerja yang menghargai setiap individu meningkatkan loyalitas dan keterlibatan pegawai. Pegawai merasa dihargai, termotivasi, dan lebih berkomitmen terhadap visi organisasi. Dengan pendekatan ini, kualitas layanan publik tidak hanya meningkat tetapi juga memberikan pengalaman positif bagi masyarakat.