JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan kembali mencuri perhatian setelah berhasil ditutup di zona hijau.
Kinerja positif ini memunculkan optimisme baru di tengah pasar yang sebelumnya bergerak hati-hati. IHSG Kembali Hijau, Sinyal Kepercayaan Investor Mulai Bangkit? menjadi pertanyaan yang kini ramai diperbincangkan pelaku pasar.
Penguatan indeks terjadi secara konsisten sejak awal sesi perdagangan hingga penutupan. Kondisi ini menunjukkan adanya minat beli yang cukup solid dari investor domestik. Pasar merespons positif meskipun masih dihadapkan pada berbagai tantangan struktural.
Analis Pasar Modal Hendra Wardana menilai pergerakan ini sebagai sinyal awal pemulihan ritme pasar. Menurutnya, penguatan IHSG kali ini tidak terjadi secara sporadis. Ada dorongan yang relatif merata dari berbagai sektor utama.
Kinerja Indeks Didorong Minat Beli Konsisten
Hendra menjelaskan bahwa indeks ditutup menguat 1,24 persen ke level 8.131. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG mampu bertahan di zona hijau tanpa tekanan berarti. Hal ini mencerminkan adanya minat beli yang konsisten sejak awal perdagangan.
“Indeks ditutup menguat 1,24% ke level 8.131 dan bertahan di zona hijau sepanjang sesi, mencerminkan adanya minat beli yang relatif konsisten sejak awal perdagangan,” kata Hendra. Ia menilai kondisi ini menjadi pembeda dibandingkan reli yang bersifat sementara. Kenaikan dinilai lebih terstruktur dibandingkan sebelumnya.
Menurutnya, penguatan ini juga tidak bersifat semu. Hampir seluruh sektor mengalami penguatan dengan kontribusi yang seimbang. Sektor konsumer primer bahkan tampil sebagai pemimpin reli.
Investor Domestik Jadi Penggerak Utama
Meski indeks menguat, kepercayaan investor asing dinilai belum sepenuhnya pulih. Data menunjukkan investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp917 miliar. Kondisi ini menandakan arus dana asing belum kembali secara struktural.
“Artinya, reli indeks lebih banyak digerakkan oleh investor domestik dan rotasi portofolio jangka pendek, bukan oleh arus dana asing yang masuk secara struktural,” ujarnya. Ia menilai pasar masih berada dalam fase pemulihan kepercayaan. Situasi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai fase euforia.
Investor domestik dinilai lebih aktif memanfaatkan momentum jangka pendek. Rotasi portofolio menjadi strategi utama di tengah ketidakpastian global. Hal ini menjaga indeks tetap bergerak positif tanpa lonjakan berlebihan.
Sentimen Global Beri Dorongan Tambahan
Dari sisi eksternal, sentimen global turut memberikan dukungan signifikan. Bursa Asia bergerak kompak menguat dengan Jepang sebagai pemimpin penguatan. Kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi dipersepsikan sebagai jaminan stabilitas politik.
“Reli di Nikkei dan Topix yang berlanjut ke level tertinggi baru turut memperkuat risk appetite investor kawasan,” ujarnya. Penguatan pasar regional memberikan efek psikologis positif. Investor menjadi lebih berani mengambil risiko secara terukur.
Selain itu, pelemahan indeks dolar AS mendekati level terendah bulanan turut membantu. Kondisi tersebut membuka ruang bagi aset berisiko di emerging market. Indonesia termasuk pasar yang kembali dilirik meski pergerakan mata uang regional masih beragam.
Faktor Domestik dan Kebijakan FTSE Russell
Di dalam negeri, penguatan IHSG juga mencerminkan rotasi sektor yang relatif sehat. Investor kembali masuk ke saham berbasis konsumsi domestik seperti ASII, ERAA, AMRT, dan UNTR. Saham-saham tersebut dinilai memiliki daya tahan lebih baik.
“Karakter konsumsi domestik yang relatif stabil membuat sektor ini kembali menjadi pilihan defensif sekaligus ofensif,” ujarnya. Strategi ini banyak diadopsi investor domestik. Ketahanan konsumsi dinilai mampu meredam tekanan eksternal.
Menariknya, pasar merespons tenang penundaan review indeks oleh FTSE Russell. Penundaan tersebut dipahami sebagai persoalan teknis, bukan penurunan fundamental. Keputusan ini tidak memicu tekanan jual berlebihan.
Hendra menjelaskan FTSE masih melihat ketidakpastian reformasi pasar. Fokus utama berada pada kebijakan free float minimum dan mekanisme transisi. Oleh karena itu, seluruh perubahan indeks ditahan sementara.
“Dampak dari kebijakan ini adalah struktur indeks FTSE Indonesia menjadi statis dalam jangka pendek,” ujarnya. Tidak ada penambahan maupun penghapusan saham dalam indeks. Kondisi ini justru memberi kepastian bagi investor institusi global.